Penulis: Johan Ferdinand*
Bagaimana menyusun kerak peristiwa yang muncul di setiap jalan kehidupan kita? Maksudnya, kita yang hidup di Indonesia—sebuah lingkup geografis kepulauan—penuh duga, penuh terka pada bencana alam dan sosial. Diikat sebuah sistem negara-bangsa yang kurang lebih akhir-akhir ini pengelolaannya tak keruan.
Apakah jalan kehidupan itu sendiri bagi orang Indonesia? Persisnya, bagaimanakah arahnya? Dalam istilah lain, arah yang dimaksud adalah: dari mana dan mau ke mana.
Persisnya adalah, di mana garis awal dan garis akhir (garis awal kembali). Sejenis usaha melihat medan; lanskap apa yang ditemui dan bagaimana lanskap itu dicatat, direkam dalam memori, sehingga memunculkan imajinasi kolektif?
Pertama-tama, tulisan ini akan menyusun rangkai definisi tentang apa itu trajektori, berikutnya peristiwa, dan terakhir sejarah.
Trajektori dan Rangkai Imaji Kolektif
Trajektori, dalam definisi umum, ialah lintasan yang dilalui objek yang bergerak dalam sebuah ruang seiring berjalannya waktu. Namun, gerak ini tak melulu linier. Dalam trajektori, gerak bisa berupa garis lurus, kurva, lengkungan, dan jenis gerak lainnya yang belum terdefinisikan.
Dalam konteks Indonesia, narasi umum trajektori kekuasaan yang bisa Anda pelajari ialah Indonesia Emas 2045. Kendati demikian, gerak kuasa ini melaju kadang tak sesuai dengan apa yang ada dalam imajinasi orang Indonesia lainnya. Seperti mereka yang marjinal, tak memiliki kuasa sedikit pun, dan seterusnya.
Pertama-tama, perlu didudukkan bahwa Indonesia Emas 2045 adalah trajektori yang kerangka logis dunia fiksinya kacau. Kontradiksi karakter utama naskah Indonesia Emas 2045 sulit dibaca arahnya. Seolah-olah, film-film drama Cina lebih bagus dibanding cita-cita Indonesia Emas 2045. Saya tak ingin menambah beban harian Anda, tetapi jika Anda memiliki waktu lebih, coba pelajari baik-baik narasi ini.
Kedua, trajektori Indonesia Emas 2045 tak banyak memuat kajian utuh terkait posisi manusia Indonesia dan tantangan hidupnya. Tentu Anda bisa mencatat 1001 alasan kenapa Indonesia bisa segera bubar. Sehingga, trajektori lain di luar naskah ini perlu dicatat lebih dulu; apa persisnya trajektori lain itu.
Ketiga, trajektori alternatif mustahil menggunakan kerangka Antroposen saja (dalam ragam definisinya). Antroposen, dalam arti tertentu, ialah menjadikan setiap keputusan manusia (kuasa) membuat arah perjalanan menjadi jelas. Analogi sederhananya: Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai 8%, tetapi bulan-bulan terakhir, separuh anggaran agaknya justru diserap peristiwa tak terduga. Bencana banjir misalnya, atau beberapa tahun lalu pandemi Covid-19. Mengapa? Karena ongkos pertumbuhan berbanding terbalik dengan kondisi geografis Indonesia. Hal ini tak dinyana dan diperhitungkan.
Keempat, trajektori adalah usaha prediksi, tetapi bagaimana cara membuat trajektori alternatif tanpa spekulasi berlebihan? Selain usaha keluar dari kerangka berpikir Antroposen, trajektori perlu melihat narasi yang utuh. Setidaknya, ia perlu memiliki mana “Titik A” dan mana “Titik B”-nya.
Oleh karena itu, tulisan ini berusaha melihat narasi yang agaknya bombastis akhir-akhir ini: Kondisi Prediktif Dunia pada Tahun 2050.
Beberapa Catatan Kondisi Prediktif Dunia Tahun 2050
Kondisi prediktif berarti bisa terjadi dan bisa tidak. Artinya, ia bersifat kemungkinan, meskipun persentase probabilitasnya menurut banyak penelitian beragam. Kendati dalam beberapa penelitian mutakhir, konsensus prediksi itu dinarasikan dalam beberapa hal.
Pertama, pada tahun 2050, tingkat pemanasan global meningkat sebesar 1,5 derajat Celsius. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), gambaran sederhana dapat dinarasikan sebagai berikut: temperatur bumi rata-rata adalah 15 derajat Celsius, sementara sampai tahun 2100, kira-kira bumi akan lebih panas menjadi 33 derajat Celsius. Ukuran ini dilihat berdasar konsentrasi karbon yang disebabkan efek rumah kaca.
Meningkatnya temperatur bumi pertama-tama berakibat pada perubahan pola makanan. Beberapa jenis sumber pangan tidak sanggup tahan dalam temperatur tinggi. Misalnya, beras dan gandum. Beberapa yang lain kemungkinan bisa beradaptasi, seperti kedelai. Persoalan jenis belum menentukan soal siapa memproduksi.
Bagi negara-negara yang hangat, temperatur bertambah panas, pun demikian dengan daerah yang lebih dingin. Sehingga, kondisi geologis akan memungkinkan lahirnya bencana sosial lain. Barangkali perang, barangkali monopoli besar-besaran—mengingat sistem ekonomi dunia hari ini masih bertumpu pada kapitalisme dan mekanisme pasar berlebih.
Dampak lain ialah prediksi mencairnya gletser di Pegunungan Andes sebesar 70%, sehingga sungai-sungai di Asia akan hilang. Dalam konteks beberapa negara kepulauan seperti Indonesia, barangkali akan menyebabkan beberapa wilayahnya tenggelam. Hal ini didorong dengan mencairnya sebagian es di Himalaya. Menurut studi McKinsey, konsultan krisis iklim di Amerika, dampak ini berlanjut pada tingginya curah hujan tiga atau empat kali lipat di banyak wilayah Asia.
Sekian prediksi 2050. Tentu ini masih sebagian; masih banyak mimpi buruk yang sulit dinarasikan. Setidak-tidaknya, ini bisa menjadi gambaran beberapa catatan modal menyusun trajektori. Sebab tentu saja, beberapa masalah belum diiringi dengan potensi bencana sosial, seperti krisis ekonomi politik, perang, wabah, dan seterusnya.
Berayun antara Peristiwa dan Sejarah
Peristiwa muncul tiap hari, mulai dari skala terdekat dan skala paling jauh. Anda bisa menyaksikan seseorang tewas akibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di jalan raya. Anda bisa merangkai peristiwa itu berlanjut pada: buruknya pengelolaan jalan raya, regulasi dari pemerintah, dan seterusnya. Lakalantas hanya satu peristiwa yang Anda temui, sementara peristiwa lain hadir di sekitar Anda, seperti seorang mahasiswa tewas kelaparan menyendiri di indekos, bunuh diri lompat dari jembatan, dan seterusnya.
Umumnya, peristiwa ini berusaha Anda ingat, dan dalam tahap peristiwa biasanya Anda memutuskan mengubahnya menjadi uap. Peristiwa gampang datang lalu pergi. Belum lagi peristiwa lain yang Anda saksikan dalam gawai dan media sosial.
Peristiwa memang penting, tetapi bagaimana melihat peristiwa untuk merangkainya menjadi sumber trajektori 2050 adalah pekerjaan tersendiri. Ini semacam analogi: “Jakarta rekening orang-orang Papua.”
Pertama, pentingnya peristiwa akan selalu penting sebagai unit terkecil memori hidup. Tetapi, bagaimana jika peristiwa itu berulang, bertahun-tahun, dan tak sepenuhnya hilang? Peristiwa berulang ialah sejarah.
Maka, sejarah dalam trajektori perlu dilihat mana titik A dan mana titik B-nya. Sehingga fantasi kemajuan mampu diimajinasikan. Masalahnya, ini tentang kemampuan membaca pola. Pola satu orang mungkin berbeda dengan orang lain sehingga paradoks akan jatuh pada relativisme. Demikian tantangan bagaimana trajektori dibangun, sementara peristiwa dan sejarah terus berayun.
Hormat pada seluruh orang yang tengah membaca gejala sejarah. Catatan berikutnya, jika relativisme memiliki potensi menghambat gerak trajektori, di mana ia harus diletakkan? Tak perlu diletakkan, anggap saja ia menjadi bagian, karena fleksibilitas trajektori memungkinkan kita melihat prediksi sejarah sebagai segala yang mungkin.
Analoginya mungkin seperti berikut. Pada tahap awal, Anda mungkin kecewa terhadap pemerintah yang tak cepat tanggap menangani bencana. Tiba-tiba Anda menemukan pola: sepanjang sejarah memang pemerintah tak pernah cepat menangani bencana. Sehingga Anda membuat simpulan bahwa pemerintah memang sejatinya takkan mengurusi bencana. Lebih lagi jika Anda menambah simpulan: pemerintah hanya akan bertindak sejauh itu berkaitan dengan rugi-untung negara yang masuk ke sebagian kantong pejabat saja.
Namun, sumber masalah sulit dibuat kerangka trajektori jika seseorang hanya berhenti sebatas pada makian pemerintah—tentu saja ini dibolehkan (meskipun ada KUHP). Bahwa dari titik A ke titik B, kita melihat kurva bencana alam di Indonesia atawa kawasan Asia Tenggara memang tinggi. Ada peristiwa berulang, seperti pergeseran tektonik, gempa bumi, dan gunung meletus.
Tanpa menafikan kemampuan kehendak manusia menguasai alam dan mengoloni Mars, dalam konteks tertentu manusia tak sanggup memiliki pembacaan absolut. Artinya, hancurnya komunitas dan mimpi manusia sepanjang kurun sejarah sejak dentuman besar hingga ancaman krisis iklim adalah niscaya. Sehingga pola ini perlu dilihat luas, misalnya Banjir Sumatra. Siapa mampu membaca peristiwa ini sebagai sejarah bencana Sumatra, sampai pada lintas laju berikutnya, yaitu tahun 2050 itu sendiri.
Pendulum Peristiwa dan Sejarah
Permasalahan bandul kapan sebuah gerak dikatakan hanya peristiwa dan kapan itu disebut sejarah? Barangkali di sinilah tantangan trajektori 2050 alternatif yang patut dibayangkan; keterbatasan untuk menghimpun peristiwa dalam sejarah mestilah tiap orang memiliki informasi yang penggal. Hanya saja, pendulum ini bisa dilihat tahun-tahun reka peristiwanya melalui memori nonmanusia.
Dalam konteks banjir, kita mampu melihat mengapa sungai meluap, sejak kapan sungai tak cukup mampu menampung curah hujan, bebatuan apa saja yang berubah. Rangkum peristiwa yang memungkinkan melihat peristiwa lalu sebagai catatan interaksi manusia dan ekologinya.
Tentu saja, catatan ini masih rumit dan njlimet. Setidak-tidaknya, usaha trajecting 2050 sebagai lanskap prediktif manusia melihat apa dan bagaimana kehidupan nanti bisa membuat manusia Indonesia lebih bersiap nantinya. Adapun proses ini kumulatif dan hanya mampu dilakukan oleh manusia dengan batasan kemampuannya masing-masing.
Sebagai tambahan catatan, ada satu model yang mampu membantu melihat sejarah. Model kategori antara peristiwa, konjungtur, dan struktur dalam jangka panjang. Peristiwa adalah unit terkecil; konjungtur ialah unit siklikal seperti ukuran periodik; dan struktur adalah ukuran perubahan lanskap panjang, durasi yang barangkali belasan juta tahun.
Demikian catatan kecil ini dibuat di sela-sela risau melihat kondisi hari ini.
Editor: Haidar


Tinggalkan Balasan