Dari tujuh hari yang ada, hari Senin selalu menjadi kambing hitam bagi manusia yang menjalani rutinitasnya. Di sini saya mencoba untuk mengajak pembaca untuk berdamai dengan hari tersebut dengan langkah awal, yaitu memposisikan diri sebagai hari Senin yang selalu menjadi sosok yang tidak diharapkan dan sebagai alasan masyarakat untuk mengeluh pada hari Minggu.
Jika kita menjadi entitas yang tidak diharapkan dan memang masyarakat tidak menginginkan kehadiran kita, segala bentuk perbuatan adalah distraksi bagi orang lain. Hari Senin yang notabenenya adalah sebuah kata benda dan sudah diatur dalam kalender sebagai hari yang mengawali hari-hari lain, justru bukannya menjadi pemantik bagi manusia untuk menjalankan kesibukan lain di hari ke depannya, malah menjadi ancaman dan dianggap menjadi sebuah kesialan, bahkan menjadi sebuah doa yang memiliki konotasi buruk seperti, “Semoga harimu Senin terus”.
Hari Senin juga mengalami diskriminasi oleh manusia dengan cara dibangunnya identitas Monday Sickness. Tidak seperti hari Jumat yang memiliki julukan sebagai hari yang berkah karena di dalam hari tersebut berisikan ritual-ritual suci. Istilah hari yang buruk pada hari Senin tidak terwujud dalam waktu yang singkat, tetapi sudah terkonstruk secara singkat. Saya curiga ada sebuah proses penyaluran terselubung melalui pengetahuan dan kekuasaan. Istilah Monday sickness sebenarnya adalah bahasa kedokteran yang menggambarkan situasi mual seorang ibu hamil di trimester pertama. Dan lagi-lagi hari Senin menjadi korban atas kesialan orang lain.
Padahal di setiap harinya secara berulang, manusia akan selalu dibangunkan dari tidurnya oleh kesibukan, dilanjutkan dengan sarapan ketidakpastian, menjalani hari sembari dihantui oleh masa depan, dan tidur berselimutkan kekecewaan. Semua hal tersebut pada akhirnya dilampiaskan kepada hari Senin yang kalian jumpai di setiap minggunya.
Wahai manusia, jikalau hari Senin memiliki wujud maka dia adalah sosok nyata kebengisan hasil perundungan kalian sedari lama. Ia akan tertawa terbahak-bahak dan keras suaranya melebih klakson orang yang tidak sabaran di daerah Pekayon menunggu lampu merah berubah menjadi hijau karena melihat secara nyata akhirnya Sisifus jengkel dengan rutinitasnya sendiri tetapi masih secara sadar dan ikhlas menjalankannya. Hari Senin juga akan menyindir secara terang-terangan bagi mereka yang dininabobokan oleh lirik lagu yang berperan bak sebuah penggalan ayat suci kitab yang mereka aminkan.
“Semoga hidup kita terus, gini-gini saja”
Bersyukurlah kalian wahai manusia bahwa hari Senin itu tidak diberikan nafas, sebab jika ia hidup, hari Senin adalah bentuk yang kalian marjinalkan dan kedamaian yang tidak sempat ia dapatkan karena selalu menjadi sosok yang dikeluhkan akan kehadirannya. Kedekatan hari Senin dengan Sang Pencipta kehidupan bisa dimanfaatkan oleh hari Senin dan keakrabannya dengan kematian juga melahirkan adagium “Hari apes gak ada di kalender”.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hari Senin, melainkan terdapat sebuah transisi secara mendadak, dari kesenangan yang terjadi sedari hari Sabtu hingga Minggu dan ditabrakan oleh kesibukan. Hal ini mengisyaratkan sejatinya manusia secara timeline dan fitrah berjalan pada lorong ruang dan waktu yang dipenuhi oleh kesengsaraan. Akan tetapi, di sela-sela lorong tersebut terdapat celah untuk manusia menyenderkan bahu sejenak sembari memulihkan tenaganya setelah lima hari bertarung dengan dunia.
Tidak ada yang perlu disalahkan dengan hari apapun, karena tujuh hari yang ada di kalender adalah sesuatu yang netral. Hal yang membuat hari menjadi sesuatu yang hidup adalah karena aktivitas kita yang ada di dalam hari tersebut yang bercampur dengan ekspektasi dan sistem kognitif manusia.
Manusia hidup dalam kondisi yang serba paradoksal. Dalam konteks hari, kita sadar bahwa waktu memiliki sifat yang progresif, yaitu memaksa manusia untuk selalu melesat laju untuk sebuah kemajuan dirinya, tetapi waktu juga memiliki sifat yang korosif, yaitu ia (waktu) menggrogoti tubuh dan pikiran yang secara fisik membuatnya semakin menua. Hari akan selalu berjalan maju, ia tidak akan pernah berjalan mundur.
Masa lalu adalah pembelajaran, masa kini yang perlu dijalankan, masa depan adalah kejutan.
Selama kita bernafas, mengeluh adalah suatu kewajaran karena itu yang membedakan manusia dengan robot. Saya menyarankan kepada teman-teman daripada kita “memukul” hari Senin, alangkah baiknya kita merangkulnya dengan hangat. Ketidaksesuaian rencana kalian itu adalah yang biasa. Farid Stevy merapalkan sebuah mantra dalam lagu yang bertajuk “Gas”
“Berjalan tak seperti rencana adalah jalan yang sudah biasa dan jalan satu-satunya…Jalani sebaik-baiknya…”
Sampai jumpa di hari-hari baik lainnya. Makan yang banyak, tidur yang nyenyak, dan teruslah yakin bahwa kalian adalah harapan dari doa-doa yang dilangitkan agar menjadi insan yang layak.
Informasi Penulis
Penulis adalah mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya angkatan 2023 (akrab disapa Jek). Ia adalah seorang gerilyawan kuliner daerah Kerto. Tidak hanya itu, dia pernah mencicipi era “semua orang pernah muda, tapi ga semua orang pernah gondrong”. Ia juga adalah pecinta hewan. Instagram: @jekawannn
Tinggalkan Balasan