Keluh-kesah Akademisi

Oleh: Baradasaka*

Penulisan akademis dan populer bisa menjadi berbeda walaupun keduanya berada di jalan keilmiahan yang sama. Begitu pula penulisan akademis dengan penulisan fiksi, merupakan suatu kegiatan yang bahkan dianggap bertentangan oleh banyak orang (ada pembedaan fiksi dan non-fiksi di pengecapan selera baca masyarakat). Bahkan di jurusan sastra atau pun rumpun ilmu budaya; di bidang keilmuanku, kepenulisannya masih melekatkan diri pada kebiasaan lama, tentu dengan ritual-ritual mengenai batasan karakter, gaya, dan jenis kecerdasan yang ditawarkan universitas. 

Tulisan akademik hampir tidak memiliki banyak variasi walaupun konon perbedaan pendapat didukung oleh universitas. Sebagian besar akademisi sepertinya tidak melihat hal ini, atau mungkin mereka mewajarkannya. Mereka hanya berpikir bahwa tugas mereka sebagai akademisi adalah menyampaikan argumen.

Saya selalu melihat mereka berbicara bahwa universitas adalah tempat yang bebas untuk berargumentasi, seolah-olah kepenulisan akademis tidak mempersempit apa yang mereka dapat pikirkan, seolah-olah jenis penulisan ini juga tidak mempersempit tulisan apa saja yang mereka dapat publikasikan di jurnal-jurnal terhormat itu. Dan mereka masih bicara bahwa universitas adalah tempat yang memungkinkan manusia berpikir lebih luas, padahal penulisan akademis sangat terkendali dan terbatas. 

Kaum terdidik selalu memiliki kebanggaan terhadap misi yang melekat pada pendidikan dan mereka mungkin membayangkan bahwa pembaca mereka akan tersenyum, tergugah, dan menantikan dengan deg-degan ide-ide inspiratif apa yang mereka klaim akan ditawarkan.

Suatu hal yang kau peluk untuk menyelamatkanmu bisa menjadi penjara di kemudian hari? Jangan percayai kutipan ini…

— Al diLa Valacques, 1980’s Memorandoms: Fight Against the Memory

Jenis tulisan lainnya rentan diabaikan, tulisan-tulisan yang tidak memiliki referensi, tidak merujuk langsung maksud argumentasi, dan bersifat pribadi, dicurigai sebagai tulisan yang akan memperdaya masyarakat dengan ‘puisi’. Seolah-olah gaya tulisan lainnya hanya pantas diuji melalui sudut pandang yang diamini sistem pendidikan, seolah-olah tulisan jenis lain harus ditundukkan pada sebuah cara pandang tertentu untuk mengulik kedalamannya. Aku sangat mencurigai praktik penulisan akademis dan berusaha mencari cara lain untuk mengakses ‘cara berpikir’.

Disini fiksi menjadi tempat, sementara saya berlabuh…

Disini fiksi menjadi tempat sementara saya berlabuh…

– Ahsan Haferosz, Menulis Tanda Baca: Otomatisme Plantian

Fiksi memungkinkan pertentangan dengan bentuk penulisan mapan; ia tidak mengharuskan penulis untuk konsisten; ia tidak mengharuskan penulis mewakili apa yang ia lakukan dalam dunia tulis-menulisnya. Universitas mendidik orang-orang untuk mempertahankan argumentasinya, karena seseorang diidentifikasi melalui argumentasi apa yang ia kemukakan, dan banyak alasan etis yang membuat dunia akademik melakukan hal itu, namun fiksi memungkinkan hubungan identifikasi ini terputus.

Seorang pembaca tidak dipaksa untuk mengharapkan representasi dari sisi sang penulis novel atau puisi. Bagiku hal ini cukup membebaskan, walaupun tentu sastra juga datang dengan bentuk keamanan dan sistem yang mendorong orang-orang untuk mengecilkan jenis penulisan lainnya.

Editor: Haidar

*Baradasaka adalah orang yang kelelahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *