Maganghub Bukan Solusi! 19 Juta Lapangan Kerja Masih Omon-Omon Saja

Oleh: M. Farhan*

Pengangguran hari ini tidak lagi sekadar soal orang yang tidak mau bekerja. Banyak yang bekerja, tetapi tidak benar-benar keluar dari ketidakpastian. Mereka berpindah dari satu program ke program lain, dari satu kontrak ke kontrak berikutnya, tanpa pernah sampai pada pekerjaan yang stabil. Dalam situasi ini, program magang sering diajukan sebagai solusi. Platform seperti MagangHub dipromosikan sebagai jembatan menuju dunia kerja. Pesertanya aktif, terdata, dan bisa dihitung sebagai bagian dari penyerapan tenaga kerja.

Secara administratif, masalah tampak bergerak. Namun, bagi peserta, magang sering kali hanya menunda pengangguran. Setelah masa magang selesai, tidak ada jaminan keberlanjutan. Pengalaman bertambah, tetapi status kembali ke nol. Mencari lagi, melamar lagi, dan menunggu lagi. Magang memang memberi pengalaman kerja. Itu tidak dipungkiri. Tetapi pengalaman tanpa kepastian tidak sama dengan lapangan pekerjaan. Lapangan kerja menuntut stabilitas, upah layak, dan perlindungan. Magang tidak memenuhi ketiganya.

Banyak peserta magang hidup dalam kecemasan yang sama dengan seorang penganggur. Setiap bulan, mereka menghitung hari: sampai kapan program ini berjalan. Tidak ada kepastian apakah akan direkrut, diperpanjang, atau dilepas. Kecemasan ini jarang dibicarakan dalam laporan resmi. Di sisi lain, pemerintah terus menyebut target 19 juta lapangan kerja. Angka itu terdengar besar, tetapi menjadi problematis jika magang ikut dihitung sebagai bagian dari pencapaian. Sebab, magang bukan pekerjaan. Ia adalah tahap belajar, bukan tujuan akhir.

Jika magang diposisikan sebagai solusi utama maka yang terjadi adalah pergeseran masalah. Bukan penyelesaian. Pengangguran dipoles menjadi “peserta program”. Status berubah, tetapi kondisi hidup tidak banyak bergeser. Lebih jauh, ketergantungan pada skema magang berisiko menormalisasi kerja tanpa kepastian. Perusahaan terbiasa memutar tenaga magang tanpa komitmen jangka panjang. Tenaga kerja terbiasa hidup dalam status sementara. Kecemasan menjadi bagian dari sistem.

Kebijakan ketenagakerjaan seharusnya berfokus pada penciptaan pekerjaan yang nyata, bukan sekadar aktivitas kerja. Pekerjaan yang memberi upah layak, durasi jelas, dan perlindungan hukum. Tanpa itu, angka-angka hanya akan terus bertambah di laporan, tetapi tidak di rasa aman masyarakat. Magang boleh ada sebagai pintu masuk. Namun, menjadikannya jawaban atas lapangan kerja adalah kekeliruan. Selama magang menggantikan pekerjaan, pengangguran hanya berganti nama. Dan kecemasan tetap tinggal di tempat yang sama.

*Pencari Kerja Tetap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *