Penulis: Sinonim Kekalahan*
Barangkali, filsafat pada dasarnya terdiri atas dua kata: fil = pil dan safat = sebat.
Jika kita menengok dua tokoh penting dalam filsafat pascamodernisme, yaitu Nietzsche (sebagai seseorang yang sakit-sakitan, maka dari itu dia ngepil) dan Albert Camus (sebagai seseorang yang pecandu rokok kelas berat), maka tak heran jika akronim filsafat hanyalah plesetan dari pil-sebat.
Lalu, siapa orang-orang yang gandrung dengan filsafat? Barangkali, mereka hanyalah orang-orang “penyakitan” yang tetap merokok sembari memikirkan keributan dunia yang kosong tanpa makna. Maka dari itu, jangan kaget jika diskusi filsafat sering kali lebih mirip ruang tunggu klinik daripada ruang kelas. Ada yang batuk-batuk sambil ngopi pahit, ada yang menatap kosong ke tembok sambil berkata, “Apa itu makna?” Padahal, yang ditanya hanya, “Mau tambah gula?”
Filsafat, dalam konteks ini, bukan lagi cinta akan kebijaksanaan, melainkan cinta akan asap rokok dan deadline eksistensial yang tak kunjung jelas. Lihat saja para penggemarnya. Mereka ini tipe orang yang kalau hujan bukannya berteduh, malah berdiri di bawah gerimis sambil berujar, “Hujan ini metafora dari penderitaan hidup.” Padahal, jaketnya basah dan ibunya sudah menelepon tiga kali. Di kantong celananya ada korek api, di tasnya ada buku setebal batu bata dengan judul yang kalau dibaca keras-keras bisa bikin lidah keseleo. Namun isinya? Separuhnya keluhan hidup, separuh lagi catatan kaki.
Dan jangan lupakan logika ala guru sejarah: semua pasti ada sebab-akibatnya, meski sebabnya dicari belakangan. Kalau murid mengantuk, itu akibat kapitalisme global serta alienasi atas diri mereka sendiri. Kalau filsuf galau, itu akibat kesadaran diri yang terlalu sadar. Bahkan, kalau kopi pahit, itu bukan karena lupa gula, tetapi karena hidup memang tidak pernah manis bagi mereka yang berpikir terlalu jauh.
Akhirnya, filsafat menjadi semacam kegiatan rebahan intelektual: kelihatannya berpikir keras, padahal cuma berputar-putar di masalah yang sama. Dunia absurd, hidup tanpa makna, manusia terlempar—tetapi rokok tetap dibakar, kopi tetap diseruput, dan diskusi tetap berakhir dengan kalimat pamungkas, “Ya sudahlah, begitulah adanya.” Sebuah kesimpulan agung yang lahir bukan dari pencerahan, melainkan dari kehabisan topik dan sebungkus rokok yang tinggal dua batang.
Di sinilah filsafat menemukan habitat alaminya: kaum jomblo. Sebab, hanya orang tanpa pasangan yang punya cukup waktu luang untuk memikirkan “mengapa aku ada” sambil menatap plafon jam delapan malam. Orang yang punya pacar biasanya terlalu sibuk membalas chat “sudah makan belum?” untuk sempat meragukan eksistensinya sendiri. Jomblo, sebaliknya, makan mie instan sambil berpikir: apakah mie ini memilihku, atau aku yang memilih mie?
Penggemar filsafat yang berstatus jomblo itu unik. Rokoknya diisap pelan-pelan karena kalau cepat habis, tidak ada lagi yang menemani sepinya. Kopinya diminum dingin karena dari awal tidak ada yang bilang, “Cepat diminum, mumpung masih panas.” Maka, wajar jika filsafat berkembang subur di indekos sempit dengan tembok berjamur dan sinyal Wi-Fi tetangga.
Nietzsche, kalau hidup di era sekarang, barangkali bukan mati di Turin, tapi sibuk update status WhatsApp: “Tuhan telah mati, chat-ku juga tidak dibalas.”
Camus pun mungkin tidak lagi menulis Mitos Sisyphus, melainkan rajin ngetwit: “Hidup itu absurd, apalagi menunggu dia online tapi jarang centang biru.” Di titik inilah absurditas mencapai puncaknya—bukan pada batu yang terus didorong ke atas gunung, tetapi pada chat yang cuma centang satu.
Logika ala guru sejarah pun kembali bekerja: jomblo bukan sebab, melainkan akibat. Akibat terlalu banyak berpikir, terlalu sering diskusi filsafat, dan terlalu jarang membalas chat pasangan. Atau sebaliknya, filsafat hanyalah pelarian elegan dari kenyataan pahit: tidak ada yang mau diajak kencan. Maka, filsafat pun dijadikan pacar sementara—tidak menuntut, tidak cemburuan, tetapi tetap bikin pusing.
Akhirnya, para penggemar filsafat yang jomblo ini berdamai dengan nasib mereka sendiri, dan sering melabeli diri mereka sebagai penganut amor fati. Sambil merokok di atas jembatan dan menatap langit malam, mereka berbisik lirih, “Mungkin kesendirian adalah jalan menuju kebijaksanaan.” Padahal, yang sebenarnya mereka maksud: “Andai ada yang mau menemani ngopi, filsafat bisa kita bahas nanti.”
*Penulis adalah seorang tapol yang gagal dalam cintanya di hari ke-8 keluar penjara.


Tinggalkan Balasan