Aku, Siapa?

Aku bingung tentang bagaimana cara menyembunyikan celoteh hati yang selalu menghidupi pendar kegundahan. Ini tidak seperti biasanya. Mengapa aku harus sibuk memikirkan hal ini. Kalau saja aku bisa menisbatkan kerinduan kepada suatu hal kewajaran yang romantis, mungkin aku tidak sebingung ini.

Pada nyatanya demikian. Aku rindu dalam menyingkapi sesal. Dan aku tidak sedang merasakannya lagi, sekarang. Bukan karena hal kompleks tentang masalah kecemburuan atau pertikaian nasib mempersoalkan ekonomi. Melainkan hal remeh temeh tentang pekerjaan burung. 

Pertanyaan yang sungguh menggelitik, memang. “Benarkah cinta selalu mengorbankan diri sendiri?” Kemudian yakinmu memberi tentang dengan mengatakan, “tidak! Tapi aku masih mencintaimu, kok.”

Aku tersenyum mendengarnya. “Weh, kamu pinter yah.” Namun, tanpa terselang aku menolak yakinmu, sayang. Karena cinta adalah orientasi yang tidak hanya mengarah pada sesuatu yang dicintai. Tapi ia juga meneroka pada segala sesuatu yang berkaitan dengan sesuatu yang dicintai. 

Aku manusia yang selalu tersenyum takzim ketika melihatmu menjadi persona yang menjalankan hak manusiawimu sendiri. Hak-hak ketika memilih menolak memberi kabar, memberi cerita, menanyakan cerita, dan menabur canda. Tapi ketika selalu berterus terang untuk melakukan hal itu, gundahku bertanya, “kau masih mencintaiku?”

Aku tidak sedang meneroka kesalehan tentang asumsi yang harus diataati. Aku hanya “wong tulus” yang sedang berjuang mencari pemaknaan tentang bagaimana cara janji bisa berselang lama. Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *