Pemangsa yang Tidak Berbentuk Hewan

Kurogoh sakuku, dapati dompet dan uangku tersisa Rp70.000 untuk bertahan hingga awal bulan. Sekarang tanggal 27 pukul 06.50, aku bergegas untuk berangkat kuliah. Sepertinya hari ini aku akan menghabiskan banyak waktuku di luar kos hingga malam karena jadwal yang superpadat. Bukan karena banyaknya mata kuliah yang kujalani, tetapi banyak tugas yang harus kukerjakan. Kunaiki motor bututku untuk pergi ke kampus.

Selesai kelas pertama, aku langsung keluar kampus untuk mencari sarapan karena kurasa makanan di kampus cukup pricy bagiku. Aku langsung bergegas ke tempat langganan, yaitu Warung Makan Delima, yang bagiku makanan di sana enak dan murah. Naasnya, ketika aku sampai di sana, ternyata semua makanan sudah habis. Dahiku mengerut, batinku mengoceh, dan perutku menggonggong. Mau tak mau, aku harus mencari tempat makan yang lain. Aku menyusuri daerah di sana dan aku menemukan warung nasi pecel. Sekilas nampak sepi karena sepertinya baru buka.

Aku memesan 1 porsi nasi pecel dengan harga Rp10.000 dan tidak dengan minum karena aku sudah membawa air dari kos untuk menghemat pengeluaranku. Aku menyantap nasi pecel itu dengan khidmat meskipun tak seenak di tempat langgananku, tapi aku menyantapnya hingga bersih dan hampir tak tersisa bumbu pecel sedikit pun.

Lalu, aku beranjak dari kursi yang kutempati, naik ke sepeda bututku, dan memakai helm untuk kembali ke kampus. Namun, sebelum aku berhasil menancapkan gas, aku dihadang oleh orang berompi biru, memakai topi, dan memakai celana jins sepanjang lutut. Kusadari bahwa dia seorang tukang parkir yang menjaga di tempat makan tersebut.

“2000 mas,” katanya sambil memegang jok belakang motorku seolah sedang membantu.

Kujawab dengan senyum pahit dan berkata, “Saya mahasiswa Mas, lagi akhir bulan, duit tinggal dikit.”

Kulihat wajahnya yang masam dan dahinya mengerut, seolah tak mau melepaskan mangsa pertamanya. Keheningan sejenak terjadi di antara kita.

“Cuma 2000 mas.”

“Ini Mas,” kataku. Aku memberikan Rp2.000 yang kurogoh dari sakuku untuk kuberikan kepada tukang parkir itu.

Aku tidak bisa menolak jika terus dipaksa dan ditekan. Orang-orang sering kali menyebut orang sepertiku adalah “orang yang nggak enakan dan gampang dimanfaatkan”. Meski begitu, aku sendiri pun tidak bisa mengubah hal ini. Pernah kucoba untuk berubah, tapi naasnya gagal. Akhirnya, aku pergi dengan muka masam dan perasaan yang teramat kesal.

Aku segera melupakan kejadian tersebut karena harus mampir ke Indomaret untuk membeli barang yang dimintai tolong temanku, sekaligus ingin membeli kopi botolan yang murah. Aku mencari Indomaret yang tidak ada tukang parkir, dan aku menemukan yang sedikit agak jauh dari warung makan tadi. Kuparkirkan motor bututku di paling ujung, dan sedikit terburu-buru saat membeli barang agar tidak terkena tukang parkir, walaupun kulihat di situ tidak ada tukang parkir.

Aku menghabiskan Rp4.000 untuk membeli kopi, dan saat kunaiki jok hendak pergi, aku dihadang lagi oleh seseorang. Ia tak memakai rompi biru seperti tukang parkir tadi, hanya memakai kaos lusuh, celana pendek, dan bendera kecil di tangannya. Menurutku, ia berpenampilan seperti gembel, bukan seperti seorang tukang parkir. Mungkin ini yang disebut orang-orang sebagai parkir liar.

Hening terjadi di antara kita. Tukang parkir tidak mau mengawali percakapan. Menurutku, tidak menagih uang dan terjadi keheningan jauh lebih memaksa daripada ditagih secara langsung. Karena aku masih berusaha untuk mencoba menolak, maka kukatakan,

“Nggak bawa uang kecil, Mas.”

Secara cepat tukang parkir itu langsung menjawab, seolah ia sudah menunggu lama sekali.

“Nanti saya tukerin ke warung di depan, Mas,” katanya.

Mau tak mau, aku harus menyerahkan uang. Kuambil dari dompet uang Rp10.000 meskipun ada uang kecil. Namun, terpaksa karena aku sudah bilang begitu. Dan aku tidak bisa untuk mencoba menolak untuk kedua kalinya. Tak tahu mengapa, memang aku tak bisa.

Tukang parkir itu langsung bergegas menukarkan uang itu, sementara aku di atas jok motor yang tertunda untuk menancapkan gas, mengunjing di dalam batinku. Tanpa kusadari, tukang parkir itu sudah kembali dan memberikan kembalianku. Uang itu langsung kumasukkan ke dalam saku dan langsung pergi tanpa mengucap sepatah kata pun.

Tukang parkir mengucap, “Terima kasih, Mas,” tapi tak kupedulikan.

Di atas jok motor, aku terus mengunjing dua tukang parkir yang kutemui hari ini. Berbagai kata kulontarkan, mulai dari “Anjing, Asu, Bajingan, dan kata-kata kotor lainnya” yang tak terhitung jumlahnya.

Sesampainya di kampus, aku langsung menuju ke kantin untuk memberikan barang titipan temanku. Setelah itu, aku pergi ke mushola untuk salat karena sebentar lagi azan akan berkumandang, dan sekarang aku tak tahu harus pergi ke mana, kelas juga masih cukup lama.

Setelah selesai salat, sekarang pukul 12.24, aku langsung menuju kelas yang akan dimulai pukul satu. Waktu berlalu begitu saja hingga kelas selesai dan aku langsung menuju ke kafe untuk mengerjakan tugas kelompok. Sebelumnya aku menyarankan untuk mengerjakan di kampus saja, tetapi karena banyaknya tempat sudah penuh, maka mau tak mau kita harus ke kafe. Aku sedikit khawatir karena uangku pas-pasan, namun sepertinya akan aman saja dan aku memesan menu yang paling murah di sana.

Tak seperti dua tempat sebelumnya, tukang parkir seperti harimau yang sedang menunggu mangsanya dari kejauhan dengan sembunyi. Di kafe ini, tukang parkir langsung terlihat jelas dari kejauhan, memakai rompi biru, celana jins panjang, dan memakai topi. Aku tak bisa mengelak lagi karena teman-temanku sudah turun dari sepeda dan memasuki kafe.

Di kafe ini parkir dibayar di awal. Aku merogoh saku mencari uang kembalian dari tukang parkir sebelumnya, hanya kutemukan Rp6.000 yang seharusnya ada Rp8.000. Di benakku langsung terbayang jelas tukang parkir Indomaret, “Pasti dia mengambil Rp4.000,” jelasku dalam batin. Ini juga salahku karena tadi tidak kuhitung terlebih dahulu.

Aku tersadar kembali ketika tukang parkir kafe memanggilku,

“Mas, 2000.”

Kuserahkan Rp2.000 dan langsung masuk ke dalam kafe dengan muka masam. Saat tiba di depan meja kasir untuk memesan, untungnya kekhawatiranku sedikit berkurang setelah melihat menu paling murah di sana masih seharga Rp10.000.

Tiga jam berlalu begitu cepat. Sekarang matahari sudah menyisih ke sebelah barat, menandai waktu petang. Aku masih harus mengerjakan satu tugas kelompok lagi sebelum pulang ke kos untuk mengistirahatkan tubuh. Kali ini tidak di kafe untuk mengerjakan tugasnya, aku meminta untuk mengerjakan di kampus saja. Selain alasan untuk berhemat uang, mengerjakan tugas di kampus juga lebih gampang untuk berkonsentrasi karena tidak seramai di kafe. Dua lebih seperempat jam baru selesai.

Aku bergegas pulang ke kos untuk beristirahat. Sebenarnya setelah makan siang aku sudah memikirkan makanan yang akan kumakan untuk malam nanti, nasi goreng. Namun, niat itu aku urungkan dan aku lebih memilih ke kos untuk langsung tidur karena uang jatah makan malamku sudah habis untuk membayar parkir. Dan jika aku memaksa untuk tetap makan malam, maka aku tidak akan bisa bertahan sampai awal bulan.

Kurebahkan diriku di atas kasur kos yang keras itu, kupaksakan memejamkan mata dengan perut yang terus menggonggong seperti anjing liar. Aku tak bisa berbuat banyak, hanya bisa menunggu esok hari untuk sarapan. Malam ini adalah malam yang panjang dan tak mengenakkan bagiku. Dan juga perutku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *