Penulis: Badra D. Ahmad*
Penulis “Jangan Suruh Kami Menjadi Sehat!” telah putus asa bahkan sebelum memulai tulisannya. Rasa-rasanya, ia akan tetap menghabiskan berbungkus-bungkus rokok lebih-lebih setelah batuk darahnya tak ada jeda sesaat. Saudara, manifesto itu mungkin tampak sebagai doa makan saat bertemu hantu. Namun secara sadar, dia dituliskan bukan untuk menjadi juru sorak seseorang yang menggoreskan pergelangan tangannya demi mencari adrenalin.
(1)
Manifesto Jomblo Sehat adalah soal membangun kembali kehidupan dengan sedia kalanya. Sial memang. Masyarakat modern tidak terbiasa dengan kesedihan. Namun ketika Saudara menjelaskan kesedihan dengan segala tetek-bengeknya, manifesto ini bukan bermaksud untuk menolaknya. Kesedihan, berikut segala hormonnya, dapat diretas oleh otak kita sendiri. Tidak harus dengan lobotomi, cukup hidup sewajarnya (seharusnya saudara sepakat dengan hal ini) dan tidak sakit serta menyakiti diri sendiri. Hendaklah dipahami menyakiti diri sendiri ini. Singkatnya, tak perlulah kecanduan sakit itu. Saudara seharusnya bersyukur otak kita lebih canggih daripada primata lain.
Memperkarakan hasrat mencintai-dicintai, aku tak dapat memungkiri hal itu dari lanskap biologis. Namun Saudara mungkin lupa bahwa otak kita bisa merekayasa dan mengondisikan bagaimana kita merespons hasrat tersebut. Bagaimana kita memersepsikan hasrat itu. Bagaimana kita bersikap atas hasrat itu. Telah banyak agama, ideologi, kepercayaan, dan nilai-nilai kehidupan lainnya yang memang mengontrol hasrat ini. Sebuah moral adalah suatu keniscayaan, Saudara. Pasalnya, beberapa dari kita memang butuh tuntunan, akuilah itu.
Manifesto main-main itu sengaja dituliskan dalam posisi seseorang yang tak memercayai ketidakpercayaan atas segala hal. Saudara seharusnya tahu sendiri bahwa sebuah kepercayaan memang mungkin salah, tapi dia membuat kita hidup. Bukan malah bercita-cita mati muda.
Menyoal kesakitan kembali, manifesto-manifestoan tersebut hadir buat orang-orang yang memang menyadari rasa sakitnya dan berkehendak acuh atas lukanya. Dia adalah seorang yang selalu membersihkan luka biar sembuh sendiri. Tidak malah membuatnya bernanah dan mungkin menyebabkan amputasi.
Panjang lebar, manifesto-manifestoan ini tidak berusaha untuk mendefinisikan bagaimana sehat yang seharusnya. Sedari awal, kondisi sehat yang dimaksudkan adalah selalu menjauhi hal-hal menyakitkan-menyakiti. Perlu ditegaskan pula bahwa hal-hal sakit ini memang keniscayaan. Sekali lagi, sehat di sini soal menyembuhkan dan bukan di “sembuh”-nya.
(2)
Ketika Saudara bertanya, “Kenapa, sih, kejombloan dan hal-ihwal natural yang menyertainya macam kesedihan itu dianggap sebagai beban?” dan menganggap bahwa manifesto mainan tadi cenderung bergerak untuk memenuhi ekspektasi masyarakat, yang sebenarnya ingin dicapai bukanlah hal tersebut. Lagi-lagi, ia akan kembali kepada cara hidup masing-masing saat menjalani kehidupan men-jomblo tanpa perlu menyisakan rasa sakit, berhidup tanpa belenggu dan risau hasrat mencintai-dicintai “yang menyakitkan”, dan siap untuk menempuh kembali hubungan yang dapat dipertahankan.
Saudara jelas tak suka dengan bagaimana sosial bekerja. Namun pernahkah Saudara berpikir bahwa banyak orang-orang di sana yang mau tak mau tunduk pada sistem sosial? Bagaimana mungkin seorang driver ShopeeFood dapat meromantisasi kesedihannya saat ia harus mencari orderan buat uang makan besok? Apakah bisa seorang satpam bank Mandiri memasang wajah galau dan loyo setelah putus dengan pacarnya dan masih lolos dari Surat Peringatan? Sistem sosial sekarang memang masih demikian, Saudara. Sial.
Saudara jelas tak menyukai eksploitasi terhadap seorang buruh, tapi jika segala hal didasarkan pada ketidakpercayaan dan ketidaksemangatan, jelas itu kontra-revolusioner. Saudara seakan berkata, “Semangat itu bikin gampang diekspoitasi, jadi bermalas-malasan saja!” Dan menjawab, “Ya sudah, nggak tahu, bodo amat,” saat ditanya bagaimana agar eksploitasi dihapuskan.
Pun misal akan dan saat menjalin hubungan, Saudara tak dapat mereduksi itu dalam kerangka biologis belaka. Sistem sosial telah merancang bentuk status hubungan dalam label “pernikahan”, “pacaran”, dan lainnya. Saudara seakan-akan berkata “Yaudah ayo kita saling mencinta, ” dan melantur di suatu siang bolong “Aku sudah bosan sama kamu. Kita selesai,” saat semuanya didasarkan pada biologis, pada listrik dan kimia, atau pada apalah hormon-hormon itu.
(3)
Saudara, kehidupan memang menyebalkan, tapi apa salahnya kita mencoba semangat kembali? Apa salahnya melawan diri sendiri saat tak lagi nyaman dengan versi yang sekarang? Apa salahnya menjadi unik yang baru saat keunikan kita yang lama hanya menyisakan rasa sakit?
Keputusasaan tak kan menjawab apa-apa, Saudara, percayalah. Ia hanya menunda. Bahkan memperburuk. Juga mematikan. Saudara mungkin berpikir bahwa beberapa kesedihan tak layak untuk disembuhkan. Namun yang pasti, Congyang hanya akan mempercepat hati kita lelah dan menguning secara berlebihan. Dan mati.
*) Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris.


Tinggalkan Balasan