Kategori: Uncategorized
-
Kudus Tanpa Sejarah, Gedung Literasi, dan Kesadaran yang Mandek

Kudus hari ini sedang sibuk membangun. Gedung perpustakaan kabupaten berdiri megah, tampil modern, seolah menjadi penanda bahwa literasi telah diberi rumah yang layak. Di luar itu, komunitas literasi tumbuh di banyak sudut: diskusi, bedah buku, lapak baca, zine, hingga festival kecil. Namun, ada keganjilan yang pelan-pelan terasa: segala yang tampak hidup itu seperti berjalan di…
-
Kebangkitan Sang Pemalas dan Kekeliruan Jomblo Alay

Ketika Badiou mengucapkan kalimat itu dalam wawancaranya bersama Stuart Jeffries di The Guardian, ia sedang berbicara tentang cinta sebagai proyek politik terkecil namun paling radikal dalam kehidupan manusia. Cinta, baginya—yang ia tulis dalam buku sakti In Praise of Love (2012)—adalah komitmen terhadap kebenaran bersama, adalah kesetiaan pada peristiwa pertemuan yang mengubah beragam subjektivitas menjadi satu…
-
Uji Batas: Sebuah Kiat Cepat Mendepak Perempuan dari Ruang Aman

Sebagai seorang perempuan perantau, terlebih lagi penyandang disabilitas sensorik netra, saya membawa kewaspadaan sosial dua kali lipat dibanding perempuan nondisabilitas. Ruang-ruang sosial yang saya hidupi sudah sangat terbatas, dan batas itu berharga sangat mahal bila ingin saya lampaui.
-
Saya Menolak Sehat!

Penulis: Brilliant Shoffiawinda* Ada satu momen ketika kata sehat berhenti terdengar sebagai harapan dan mulai berfungsi sebagai perintah. Bukan anjuran, bukan empati, malah mirip sirene. Mengatur jarak. Mengatur sikap. Mengatur bagaimana perasaan seharusnya bekerja agar tidak mengganggu lalu lintas sosial. Saya membaca Manifesto Jomblo Sehat dengan perasaan ambigu. Dalam tulisan milik kawan Badra itu, kata…
-
Kawan-kawan, Ayo Belajar Matematika!

Oleh: Dimas Candra Pradana* Membaca tiga tulisan sebelumnya—“Manifesto Jomblo Sehat”, “Jangan Suruh Kami Menjadi Sehat”, dan “Kesehatan Mental itu Bisnis, Guz!”—membuat saya sempat mengira bahwa dunia memang sedang dirundung permasalahan mental, lebih-lebih mereka yang jomblo atau baru saja putus cinta. Semuanya mendadak jadi pasien sekaligus terapis karbitan. Tapi, untunglah perkiraan saya meleset. Dunia tak sedang…
-
Kami Hanya Ingin Tak Lagi Sakit, Saudara!

Penulis: Badra D. Ahmad* Penulis “Jangan Suruh Kami Menjadi Sehat!” telah putus asa bahkan sebelum memulai tulisannya. Rasa-rasanya, ia akan tetap menghabiskan berbungkus-bungkus rokok lebih-lebih setelah batuk darahnya tak ada jeda sesaat. Saudara, manifesto itu mungkin tampak sebagai doa makan saat bertemu hantu. Namun secara sadar, dia dituliskan bukan untuk menjadi juru sorak seseorang yang…
-
Kesehatan Mental itu Bisnis, Guz!

Oleh: Muhammad Tajul Asrori* Haidar harus bertanggung jawab atas tulisannya. Apabila besok para psikolog kehilangan kursi empuknya di kantor atau para pasien di rumah sakit jiwa mendadak memberontak karena mereka merasa dibohongi, itu semua salah Haidar. Saya tak habis pikir. Term sehat sudah melekat di dahi mereka, Guz! Harusnya Guz tidak perlu merusak tatanan itu.…
-
Jangan Suruh Kami Menjadi Sehat!

Membaca Manifesto Jomblo Sehat itu rasanya seperti melihat orang yang sedang bersiul keras-keras saat lewat kuburan Belanda malam-malam, atau orang yang tiba-tiba merapal doa mau makan sebab melihat sosok pocong di jendela kamar. Hal-hal yang dilakukan untuk menutupi gemeretak gigi karena ketakutan setengah mati menghadapi kenyataan.
-
Manifesto Jomblo Sehat

Melihat kondisi sosial yang semakin menaruh diksi jomblo dalam subordinasi dan konotasi yang buruk, maka bukan salah bila hal ini digabungkan dengan satu kata: Sehat.
