Penulis: Badra D. Ahmad*
Melihat kondisi sosial yang semakin menaruh diksi jomblo dalam subordinasi dan konotasi yang buruk, maka bukan salah bila hal ini digabungkan dengan satu kata: Sehat.
Tentu saja diksi ini akan sangat politis melihat bagaimana kadar dan kondisi bagaimana dapat disebut sebagai sehat.
Untuk mengawalinya, mari kita ambil bahwa sehat dengan memposisikannya bersama antonimnya: Sakit. Perasaan tak menyenangkan. Merusak dan membuat kematian. Adalah hal-hal yang perlu dihindari dalam mencapai kata sehat.
Dalam konteks jomblo sehat, kadar kesehatan bukanlah hanya ditujukan pada si empunya pemahaman ini. Jomblo sehat haruslah bisa mengupayakan agar dia tak menyakiti orang lain pula.
Didasarkan pada ideologi pasifis, anti-otoritarian, dan eksistensialis, jomblo sehat dapat mengambil beberapa irisan darinya.
Dalam hal pasifis, jomblo sehat mengupayakan penyelesaian masalah dengan mengalah dan tidak destruktif. Hal ini tentu selaras dengan konsep anti-otoritarian yang menolak keputusan sepihak. Untuk dapat menempuh kedua asas tadi, perlulah landasan eksistensialisme yang kuat. Sebuah alasan untuk hidup, haruslah ditemukan terlebih dahulu.
Perlu dipastikan bahwa tujuan kehidupan ini dipisahkan dengan hasrat mencintai-dicintai. Untuk itu, seorang jomblo sehat harus:
- Tidak ketergantungan pada orang lain. Salah satu yang terpenting adalah dengan berhenti mengucapkan when yah. Juga tidak menghardik serta membenci orang-orang yang berpasangan dan bercinta. Jomblo sehat justru menghargai dan mengapresiasi cinta kasih yang damai.
- Menemukan semangat hidup, sekecil apapun harus dihargai dan diupayakan. Hal ini sangat perlu ditekankan guna mencapai kehidupan yang sehat.
- Tidak pernah bermain-main dengan perasaan orang lain. Salah satu yang bisa ditempuh adalah dengan mengenal seseorang tanpa motif memulai hubungan.
- Memperhitungkan segala hal dengan penuh sadar dan siap atas konsekuensinya.
- Siap menempuh proses penyembuhan luka dengan tenang dan terarah. Bahwa proses penerimaan adalah berkaitan dengan proses pembelajaran kehidupan.
Demikian manifesto jomblo sehat dituliskan guna mencapai revolusi romansa sosial yang optimis dan tidak destruktif.
Editor: Wong Kalah
*) Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris.


Tinggalkan Balasan