Penulis: Muhammad Haidar Sabid A*
“Satu hari akan kubakar bunga matahari
Akan kupandangi hingga menjadi abu setebal lima inchi
Dan menyaksikan pula lebah yang mati
Ketika mereka berkata ‘kenapa seperti ini?’
Maka kan kukatakan ‘terserahlah aku tak peduli!’”
— Terapi Minor
Membaca Manifesto Jomblo Sehat itu rasanya seperti melihat orang yang sedang bersiul keras-keras saat lewat kuburan Belanda malam-malam, atau orang yang tiba-tiba merapal doa mau makan sebab melihat sosok pocong di jendela kamar. Hal-hal yang dilakukan untuk menutupi gemeretak gigi karena ketakutan setengah mati menghadapi kenyataan.
Tapi itu bukan persoalan. Masalahnya adalah saya menangkap bahwa ada nada yang begitu mendesak, begitu cemas, seolah-olah menjadi jomblo (macam saya) adalah sebuah “kecelakaan sejarah” yang harus segera diamankan oleh polisi. Saya tak terima bahwa hal-ihwal yang menyangkut khittah jomblo diperlakukan bak sampar, atau noda membandel di lantai porselen peradaban. Kenapa, sih, kejombloan dan hal-ihwal natural yang menyertainya macam kesedihan itu dianggap beban? Kenapa ia harus dirias sedemikian rupa supaya tidak—setidaknya yang saya tangkap—malu-maluin?
Di mata masyarakat kita yang cerewetnya minta ampun ini, manusia yang tidur sendirian dianggap baterai yang rusak. Tidak ada gunanya. Tidak menghasilkan “arus listrik” berupa anak-cucu yang kelak bakal jadi pembayar pajak atau tenaga kerja baru. Masyarakat yang “menindas” jomblo itu sebenarnya adalah manifestasi dari ketakutan kolektif akan kepunahan. Makanya, ketika ada orang yang memutuskan (atau terpaksa) sendiri, masyarakat panik.
Saya rasa manifesto macam ini adalah upaya “penjinakan”. Seolah berkata, “Oke, kamu boleh sendiri, tapi tolong jangan kelihatan menyedihkan, ya. Jangan merusak pemandangan. Jadilah jomblo yang produktif, yang senyumnya lebar, biar kami tidak merasa bersalah melihat nasibmu.” Intinya, saya disuruh untuk memenuhi ekspektasi masyarakat. Fak sosayeti! Spektakel sosayeti.
Ini kan kurang ajar namanya.
Lalu soal rasa sakit. Saat membaca, saya seolah disuruh untuk menghindari rasa sakit, harus “sembuh”, harus “tidak ketergantungan”.
Lha, penulisnya ini lupa atau pura-pura tidak tahu kalau kita ini cuma mamalia yang kebetulan bisa pakai celana panjang dan berpikir secara lebih tertata? Kita ini, maaf-maaf kata, adalah onggokan daging seberat enam puluh kilogram, sekumpulan protein yang disetir oleh listrik dan cairan kimia macam serotonin atau oksitosin. Kita ini saudara sepupunya kera.
Rasa sakit, rasa sepi, rasa ingin usel-usel di bahu orang lain itu bukan penyakit mental, Bung! Itu panggilan alam. Itu cetak biru manusia dan jutaan spesies lain sejak kolam sup primordial kita dimasak. Jutaan tahun nenek moyang kita bertahan hidup karena mereka takut sendirian. Kalau mereka sok kuat dan misah dari gerombolan, ya dimakan macan atau diinjak mamot.
Otak kita merancang sebuah alarm bernama “kesepian”. Begitu kita sendirian, otak menyemprotkan hormon stres kortisol. Rasanya tidak enak, gelisah, perih. Tujuannya apa? Supaya kita kapok jadi sendirian dan lari mencari teman atau pasangan. Rasa sakit itu adalah cambuk supaya spesies kita tidak punah. Hasrat untuk berpasangan itu semata-mata adalah trik licik alam semesta supaya spesies ini tidak punah.
Jadi, ketika manifesto itu menyuruh kita untuk “mandiri secara total” dan membuang hasrat mencintai-dicintai demi sebuah kesehatan mental, itu sama saja menyuruh ikan untuk hidup di daratan. “Ayo, ikan, jangan ketergantungan sama air, kamu pasti bisa!” Ya mati konyol ikannya.
Kalau manifesto ini benar-benar serius—benar-benar ingin menciptakan manusia yang “sehat” dalam artian tidak lagi merasa sakit karena cinta, tidak lagi merengek kesepian, dan tidak lagi punya ketergantungan pada makhluk lain—maka solusinya bukan motivasi atau sikap semacam ini. Jalan yang paling waras, kalau mau mengikuti logika manifesto itu sampai ke akar-akarnya, adalah jalan radikal.
Kalau ingin jomblo yang benar-benar “sehat” dan tidak peduli pada asmara, maka hilangkan dulu zat-zat kimia di tubuhnya. Kuras hormonnya. Kuras habis testosteron, estrogen, dopamin, dan oksitosin. Cabut kelenjar-kelenjar yang bikin deg-degan itu. Kalau perlu, lakukan lobotomi. Bedahlah otak untuk memutus saraf emosi.
Selama zat-zat kimia itu masih mengalir di pembuluh darah, selama komponen-komponen reproduksi masih menempel di jisim kita, manusia akan tetap merengek minta kasih sayang, akan tetap bernafsu, dan akan tetap merasa sepi. Nah, kalau sudah hilang kesemuanya, barulah tercapai cita-cita luhur manifesto itu. Si jomblo akan duduk tenang, tatapannya kosong, tidak butuh pacar, tidak butuh kasih sayang, mandiri mutlak, jadi manifestasi dari The Ego and Its Own yang paling egois—sangat-sangat egois. Persis seperti sayur lodeh blendrang yang sudah dingin, siap digodok lagi biar lebih enak.
Karena selama kita masih jadi daging yang bernapas, selama jantung masih memompa darah, kita akan selalu jadi budak dari ketergantungan. Kita akan selalu “sakit” oleh rindu dan sepi. Itu paket lengkap jadi manusia.
Satu-satunya entitas yang benar-benar “sehat”, “tenang”, “pasifis”, “tidak menyakiti orang lain”, dan “tidak punya motif” hanyalah mayat. Atau batu kali. Atau asbak rokok. Berarti tidak satu-satunya. Ada banyak. Mereka tidak pernah galau saat malam Minggu, atau melihat orang (atau mayat, atau asbak, atau batu kali) lain berduaan di samping mereka. Mereka abadi dalam kebisuan yang paripurna.
Satu lagi. Dikotomi antara yang “sehat” (baik, mandiri, tidak baperan) dan yang “sakit” (bergantung, sedih, merusak) ini semua hanyalah konstruksi sosial. Ini hegemoni orang-orang yang mengaku “sehat”. Dengan melabeli kesedihan dan kesepian sebagai “penyakit”, mereka punya alasan untuk mengoreksi kita. Mereka punya alasan untuk membedah otak kita dan menjejalkan norma-norma mereka. Mereka jadi Satpol PP. Mereka jadi Satpol PP.
Arghhhh… Kita digusur!
Padahal, menjadi sedih itu manusiawi. Menjadi berantakan itu wajar. Menjadi “tidak waras” di tengah dunia yang gila ini justru adalah satu-satunya bentuk kewarasan yang tersisa. Jangan biarkan Satpol PP yang hendak bersarang, hendak membangun markas di kepalamu itu berpatroli dan mendikte kapan kamu boleh menangis dan kapan harus tertawa.
Jadi, berhentilah memaksa para jomblo macam saya untuk menjadi nabi yang suci dari dosa-dosa perasaan. Biarkan saya menjadi manusia yang wajar, manusia yang sepi, manusia yang suwung, manusia yang menikmati kesedihan dengan segala luka-lukanya. Saya ingin jadi orang yang tidak bersemangat, sebab menjadi pribadi yang semangat itu rawan dieksploitasi (entah oleh sistem kapitalisme, jalinan perkawanan, atau apa pun itu yang menuntut “sehat jasmani dan rohani” dalam aturannya. Perspektif, misalnya, mencantumkan persyaratan sehat jasmani dan rohani dalam AD/ART sebagai syarat Homo sapiens biar dia bisa jadi reporter).
Hidup ini sudah terlalu banyak aturan, negara berlagak bajingan, tak usah ditambah dengan aturan cara menjomblo yang birokratis begitu. Biarkan saya sakit! Biarkan saya sakit!
Sudahlah, Bung. Daripada sibuk membikin manifesto supaya terlihat tegar, lebih baik kita ngopi lagi, atau kalau mau lebih ngelu ukur-ukur saya traktir Congyang satu botol di Caramaelo malam entah kapan. Pahit sedikit tidak apa-apa, toh hidup memang begini rasanya.
Hidup memang bajingan. Kimbek!
*) Penulis adalah mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya angkatan 2023. Pernah mencicipi kursi pimpinan redaksi LPM Perspektif FISIP UB, lantas memilih pensiun sebelum waktunya. Di luar urusan akademik dan ideologi, penulis pernah berada di fase menjadikan Mangu dari Fourtwnty sebagai lagu nasional pribadi.


Tinggalkan Balasan