Penulis: Brilliant Shoffiawinda*
Ada satu momen ketika kata sehat berhenti terdengar sebagai harapan dan mulai berfungsi sebagai perintah. Bukan anjuran, bukan empati, malah mirip sirene. Mengatur jarak. Mengatur sikap. Mengatur bagaimana perasaan seharusnya bekerja agar tidak mengganggu lalu lintas sosial.
Saya membaca Manifesto Jomblo Sehat dengan perasaan ambigu. Dalam tulisan milik kawan Badra itu, kata sehat tidak berdiri sendirian. Ia membawa seluruh aparat di belakangnya: kemandirian, kedewasaan, pengendalian diri, pemisahan antara tujuan hidup dan hasrat mencintai-dicintai, serta moralitas yang tenang. Seolah-olah kejombloan—dan lebih jauh lagi, kegagalan mencintai—adalah wilayah liar yang harus segera ditertibkan.
Saya menolak logika penertiban.
Sebab dalam pengalaman saya, perasaan tidak pernah lahir dengan SOP. Ia datang sebagai kegagalan beruntun, sebagai kalimat-kalimat yang ditulis terlalu panjang dalam sebuah surat, dengan sopan, berhati-hati, penuh klarifikasi, bahkan permintaan maaf. Saya memilih kata agar tidak melukai. Saya merapikan emosi agar tampak rasional. Saya mengira itulah bentuk kedewasaan.
Saya pernah mencoba patuh: memastikan tidak ada tuntutan, memastikan tidak ada amarah yang bocor, memastikan segalanya terdengar wajar. Semua demi satu hal, penyampaian perasaan yang terlihat dewasa. Terlihat sehat. Padahal, di saat yang sama, saya juga sedang melawan satu aturan paling sunyi yang ditanamkan masyarakat pada perempuan: bahwa kami sebaiknya tidak duluan. Tidak duluan berharap, tidak duluan mengaku, tidak duluan menulis surat, tidak duluan membuka perasaan. Saya melangkah melewati larangan itu dengan sadar.
Tapi yang sehat itu tidak pernah berbalas.
Kami tetap berteman seperti biasa, setidaknya begitu yang tampak dari luar. Masih saling menyapa, masih bisa tertawa di ruang yang sama. Tapi justru di situ masalahnya, semuanya berjalan tanpa benar-benar bergerak. Ada kecanggungan yang tidak diucapkan, ada jarak yang tidak pernah disepakati tapi terus bertambah.
Maka jika menjadi sehat berarti harus selalu paham posisi, selalu kuat, selalu bisa menarik diri dengan anggun, saya memilih menolak. Saya memilih menjadi manusia yang kadang salah menaruh harap, yang menulis surat terlalu panjang, yang merasa bodoh setelah mengirimkannya, yang belum tahu bagaimana cara merapikan perasaan tanpa menghilangkannya. Ya, saya masih belum ingin menghilangkan perasaan ini. Karena saya pikir mencintai adalah tindakan egois, dan saya adalah subjek otonom yang egois.
Di titik ini, sehat bukan lagi kondisi, ia menjelma sebagai ideologi.
Ia bekerja seperti negara kecil di dalam kepala: menetapkan norma, memberi label, menentukan mana yang wajar dan mana yang berlebihan. Sedih boleh, asal tidak terlalu lama. Rindu boleh, asal tidak mengganggu produktivitas. Kecewa boleh, asal tetap sopan. Dan ketika ada yang tidak patuh, ia langsung dicap: tidak dewasa, tidak siap, tidak sehat.
Saya menolak diksi itu. Saya menolak ketika kesedihan direduksi menjadi gangguan. Saya menolak ketika ketergantungan dianggap dosa. Saya menolak ketika luka diperlakukan seperti sampah yang harus segera dibersihkan agar ruang publik tetap nyaman.
Dalam percintaan saya, yang paling menyakitkan bukan ditolak. Yang paling menyakitkan adalah keharusan untuk selalu tampak baik-baik saja. Tampak ceria, pringas pringis, berani, dan tidak gugup melihat senyum manisnya tiap berada di ruang yang sama. Sehat, dalam bentuk ini, adalah kekerasan yang sopan. Ia tidak memukul, tapi mengatur. Ia tidak melarang, tapi menormalisasi. Ia tidak berteriak, tapi membuat kita malu pada perasaan sendiri.
Maka ketika jomblo diminta menjadi sehat, saya mendengar pesan lain: jangan terlalu jujur. Jangan terlalu berisik dengan luka. Jangan membuat orang lain ikut merasa tidak nyaman dengan kegagalanmu. Rapikan dirimu sendiri, lalu kembali ke masyarakat sebagai individu yang bisa diterima.
TIDAK! Saya menolak. Saya memilih perasaan yang tidak selesai. Saya memilih surat cinta yang tidak sempurna. Saya memilih kekacauan yang jujur daripada ketenangan yang dipaksakan. Yang bermasalah adalah dunia yang terlalu takut pada emosi yang tidak bisa dikendalikan. Jadi, saya ingin tetap sakit. Jangan jadikan cinta sebagai proyek disiplin. Jangan ubah luka menjadi urusan administrasi batin. Biarkan perasaan tetap liar. Biarkan ia berisik. Biarkan ia mengacaukan.
Sebab barangkali, di tengah dunia yang begitu sibuk menertibkan segalanya, ketidakpatuhan emosional adalah satu-satunya bentuk kejujuran yang masih tersisa. Saya suka kekacauan, dan di sisa-sisa ruang harap ini saya harap dia juga suka kekacauan. Perasaan ini akan terus tumbuh liar serupa gulma, entah sampai kapan.
*Penulis merupakan mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Airlangga angkatan 2022. Tidak pernah menjadi awak pers, bahkan pers-persan (baca: persma). Dua kali ditolak masuk persma karena kemampuan menulis yang buruk. Saat ini sedang jatuh cinta pada abang-abangan pers, sehingga dengan getir dan canggung mulai belajar menulis (lagi).


Tinggalkan Balasan