Uji Batas: Sebuah Kiat Cepat Mendepak Perempuan dari Ruang Aman

Penulis: Ni Komang Yuni Lestari*

Peringatan: Tulisan ini membahas pengalaman terkait pelanggaran batas personal, dampak trauma psikis, dan tantangan ruang aman bagi perempuan penyandang disabilitas. Mohon bijak dalam membaca.

Sebagai seorang perempuan perantau, terlebih lagi penyandang disabilitas sensorik netra, saya membawa kewaspadaan sosial dua kali lipat dibanding perempuan nondisabilitas. Ruang-ruang sosial yang saya hidupi sudah sangat terbatas, dan batas itu berharga sangat mahal bila ingin saya lampaui.

Sungguh mahal sekali. Saya sudah membayarnya beberapa kali, dan memberikan “kembaliannya” sekalian. Pertama, relasi yang runtuh sebelum sempat terbangun. Kedua, pemicu trauma yang membuat saya mundur. “Kembaliannya” adalah ruang aman yang sempat saya pegang dengan penuh harapan, lalu terpaksa saya tinggalkan karena nila setitik telah merusak susu sebelanga.

Saya terlepas dari ruang nyata dan diskusi interaktif, nihil dari perjumpaan serta kemungkinan-kemungkinannya. Saya menjauh dari ruang hidup dan perasaan menjadi bagian dari sesuatu. Oh, boy. Keterasingan macam ini benar-benar bajingan.

Di tengah upaya mencari ruang intelektual agar sisi idealis saya menemukan tempatnya, saya hampir selalu menemui kebrengsekan yang sama di tempat yang berbeda. Laki-laki yang menguji batas dengan sadar, dan pintu yang akhirnya saya “gabrukkan” di depan hidung mereka karena saya tidak mampu menoleransi kekurangajaran macam apa pun, seminimal apa pun.

Apa yang mereka lakukan tereduksi dalam benak saya sebagai sinyal bahaya. Hal itu memaksa saya meninggalkan ruang apa pun yang juga mereka huni, entah itu diskusi dialektis atau sekadar klub baca. Bisakah kalian membayangkan ada kekurangajaran di tempat-tempat semacam itu?

Di tempat orang-orang intelek—atau yang merasa intelek—berdiskusi dan membangun pikiran kritis, rasanya mustahil ada yang terpikir untuk mengusik perempuan dengan pesan teks frontal tanpa kesadaran diri, atau menunjukkan indikasi ketertarikan yang bahkan lebih dahulu mengusik kawan sejawat saya daripada saya sendiri.

Selamanya, alasan mengapa laki-laki jenis ini melakukan “uji batas” terhadap perempuan dengan kerentanan berlapis adalah sesuatu yang tidak bisa saya pahami, bahkan mungkin oleh orang dengan moral minimal sekalipun. Akibatnya, boy, adalah harga paling mahal yang harus dibayar oleh seorang perempuan yang hanya menginginkan sedikit ruang hidup.

Uji batas yang kalian lakukan—dengan sadar atau tidak, dengan pikiran iseng-iseng berhadiah itu—mampu melumpuhkan rasa aman yang mungkin telah dikumpulkan seorang perempuan dari bertahun-tahun perawatan psikiater. Dulu, saya pikir tidak mungkin ada kekurangajaran di ruang-ruang intelektual. Namun, apa yang saya alami merupakan bukti empiris yang menerpa keras permukaan kenyataan.

Kenyataan bahwa ruang aman untuk perempuan sudahlah sangat sempit, ditambah kondisi kedisabilitasan saya yang semakin menyempitkan ruang yang sekiranya bisa saya hidupi, lalu diakumulasikan dengan trauma psikologis yang terpicu lagi, lagi, dan lagi. Ruang-ruang yang pernah begitu saya harapkan, orang-orang yang tadinya saya pikir adalah lingkaran intelektual dambaan, runtuh dan nihil perlahan.

Saya tidak punya nyali untuk mengulangi upaya pencarian ruang intelektual semacam itu lagi. Bukan karena ruangnya, bukan karena orang-orangnya, melainkan karena keberadaan satu jenis laki-laki yang tidak bisa menghentikan dirinya dari mengusik rasa aman perempuan. Anehnya, jenis lelaki ini, entah kebetulan atau bukan, pasti merupakan “orang penting” dalam ruang diskusi atau klub buku tersebut.

Saya tidak bisa belajar sambil bersosialisasi dengan stabil sekaligus bersiaga. Itu pekerjaan paling melelahkan di seluruh dunia. Bilamana saya memutuskan datang ke sebuah ruang intelektual, saya sudah mempertimbangkan dan mengantisipasi posisi saya: sebagai perempuan, sebagai penyandang disabilitas sensorik penglihatan, dan sebagai penyintas pengalaman traumatis berulang.

Segenap hal itu sudah berupaya saya lampaui hanya demi mendapatkan ruang dialektis. Namun, ketika berada di tempat tersebut dan harus berurusan dengan laki-laki yang mengonfirmasi segala kecemasan yang telah saya kendalikan, rasanya seperti diledek; bahwa perempuan seperti saya memang telah disegel dengan semacam kutukan bahwa tidak ada ruang aman untuk saya hidupi.

Saya, perempuan dengan keterbatasan sensorik penglihatan, tidak akan pernah bisa meminimalisasi indikasi dari raut wajah, isyarat tertentu, atau kerlingan tidak biasa bilamana berada di ruang sosial. Yang saya terima kemudian justru pesan teks eksplisit dan peringatan dari teman sejawat.

Hal-hal semacam ini selalu membuat saya berkecil hati atas kondisi sendiri, dan menyadari bahwa saya mungkin tidak akan pernah mendapatkan ruang aman akibat kenyataan bahwa etika di ruang intelektual sekalipun bisa runtuh. Selalu, dalam upaya dan keberanian yang saya kais dari dasar pikiran paling rasional, diri dan pikiran saya direduksi menjadi ketertarikan mentah yang memicu tindakan bodoh serta pesan teks kurang ajar. Ini menghentikan saya dari mencari ruang lain.

Saya tidak mampu menamai pengalaman ini selain sebuah kutukan: perempuan yang terpenjara di dalam kepalanya sendiri, dikunci lagi dalam isolasi sosial dan psikologis demi meminimalkan risiko atas ketidakmampuan orang lain mengendalikan diri mereka.

Diskusi dialektis itu, juga perbincangan menarik di klub baca itu, kini hanya bisa saya dengarkan melalui panggilan video—dalam kegelapan dan di antara empat dinding kamar kos yang melindungi saya dari indikasi tidak pantas orang lain atas eksistensi saya di ruang nyata. Saya tahu mungkin saya tidak akan selamanya terisolasi di tempat ini, namun saya juga tidak tahu kapan bisa kembali menemukan nyali untuk mencari ruang lain lagi.

Kepada laki-laki mana pun yang merasa pernah melakukan kebodohan kurang ajar macam ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat. Sebab, satu kekurangajaran kalian telah menghentikan seorang perempuan dari upaya mencari ruang hidup paling mendasar yang bisa ia harapkan.

Menyadari bahwa ruang aman adalah hak dasar yang tidak boleh dirampas oleh siapa pun, pemulihan dan perlindungan adalah langkah pertama untuk meruntuhkan isolasi. Jika Anda mengalami situasi serupa atau membutuhkan teman cerita yang aman dan profesional, silakan hubungi layanan berikut:

SAPA 129 (KemenPPPA): Call 129 atau WhatsApp 08111-129-129 (Pengaduan Umum).

LBH APIK: https://lbhapik.or.id/pengaduan/

Yayasan Pulih: WhatsApp 0811-8436-633

Cari Layanan: carilayanan.com

*Komang Yuni, Mahasiswa Sosiologi yang melakoni. Menulis sebagaimana ia bernapas. Gandrung dengan dunia jurnalistik, namun lebih mengidentifikasi diri sebagai esais dan cerpenis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *