Kesehatan Mental itu Bisnis, Guz!

Oleh: Muhammad Tajul Asrori*

Haidar harus bertanggung jawab atas tulisannya. Apabila besok para psikolog kehilangan kursi empuknya di kantor atau para pasien di rumah sakit jiwa mendadak memberontak karena mereka merasa dibohongi, itu semua salah Haidar. Saya tak habis pikir. Term sehat sudah melekat di dahi mereka, Guz! Harusnya Guz tidak perlu merusak tatanan itu. Siapa lagi yang mau menerima ijazah profesi psikolog jika orang-orang tidak mau bergantung padanya?!

Badra, misalnya. Biarkan saja ia hidup dalam ilusi yang ia buat atas “jomblo sehat” itu. Kapan-kapan ketika ia sudah merasa cukup lelah karena kesehatan itu tak kunjung dicapainya, ia akan pergi ke psikolog, menanyakan keadaan mentalnya, dan pulang dengan membawa mitos “kesehatan” lain yang ia taruh dalam saku. Hidup seperti itu menyenangkan, Guz. Dunia berjalan, ekonomi berputar, tak perlu ada peperangan, dan manusia bisa mengisi tangki irasionalitasnya dengan penuh―Bung cinta perdamaian, bukan? Toh, selama ini kita hidup dalam ketidakrasionalan.

Haidar mungkin benar bahwa dikotomi sehat dan sakit hanyalah konstruksi sosial. Tapi konstruksi apa lagi yang mau Guz bangun jika itu dihilangkan? Sudah sewajarnya kita melabeli sesuatu yang menjadi lingkup dari bahasa (negara). Dan seperti ilalang yang tumbuh di ladang padi, kemunculan dikotomi itu pasti akan cukul dalam wujud apapun. Saya curiga Guz adalah antek asing. Dan atas tulisan itu, Gestapu part dua akan segera terjadi.

Namun kali ini, pihak asing seperti Guz-lah yang akan melakukannya―dengan lengsernya Prabowo dan konsekuensi kebudayaannya adalah munculnya dikotomi baru selain sehat dan sakit.
Anggap saja kita benar-benar memiliki sisi psikologis yang tidak bisa dikuras seperti zat-zat kimia dalam tubuh. Dengan itu, manusia bisa menjadi mayat seperti yang Bung bilang―bisa sehat, tenang, pasifis, tidak menyakiti orang lain, dan tidak punya motif. Mereka tak perlu lagi bersiul-siul keras di kuburan dengan alasan takut. Sebab, siapa juga yang takut dengan dengan saudara biologis mereka sendiri.

Biarlah kajian neurologi terus berjalan menjemput hormon dan zat-zat kimia lain untuk memajukan sains. Tapi sisakan sedikit ruang, di pojokan pun tak apa, untuk mitos-mitos ini dapat selalu diproduksi. Skinner mungkin tidak suka (dia akan mabuk dan kembali menjadi sastrawan), tapi ya bagaimana lagi, demi kesehatan mental, Guz!

Atau saya memahami maksudnya. Haidar ingin mengubah persepsi Badra dan menjadikannya domba. Tidak perlu repot-repot. Mari duduk di gedung putih dan melihat semuanya baik-baik saja. Karena dar’ul mafaasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih. Ada baiknya mencegah kekacauan seperti itu. Sekian.

Nama dari website ini adalah kontradiksi. Maka, wajar jika argumen tulisan ini rada-rada, ngawur, dan kontradiktif.

*Penulis merupakan mahasiswa Psikologi semester 3 (dan sedikit tertarik pada psikoanalisis). Saat ini, penulis juga aktif di UAPKM-UB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *