Kebangkitan Sang Pemalas dan Kekeliruan Jomblo Alay

Oleh: Mohammad Rafi Azzamy*

“Love and politics are the two great figures of social engagement. Politics is enthusiasm with a collective; with love, two people. So love is the minimal form of communism.”
– Alain Badiou

Ketika Badiou mengucapkan kalimat itu dalam wawancaranya bersama Stuart Jeffries di The Guardian, ia sedang berbicara tentang cinta sebagai proyek politik terkecil namun paling radikal dalam kehidupan manusia. Cinta, baginya—yang ia tulis dalam buku sakti In Praise of Love (2012)—adalah komitmen terhadap kebenaran bersama, adalah kesetiaan pada peristiwa pertemuan yang mengubah beragam subjektivitas menjadi satu proyek kehidupan. Namun apa jadinya ketika generasi kita justru merayakan penolakan terhadap proyek itu? Apa jadinya ketika kejombloan bukan lagi sekadar kondisi sementara, melainkan identitas yang dipertahankan dengan argumentasi filosofis dan biologis yang rumit?

Inilah yang terjadi dalam polemik antara Manifesto Jomblo Sehat ala Badra dan responsnya yang datang dari Haidar. Dua esai yang seolah berbicara tentang kejombloan, padahal sesungguhnya sedang memperdebatkan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah manusia punya tanggung jawab untuk mengatasi kondisi eksistensialnya, ataukah ia berhak sepenuhnya untuk pasrah pada desain biologis dan psikologisnya? Walau sebenarnya Badra telah memberi tanggapan tambahan terhadap Haidar, tapi tanggapan itu masih satu poin dengan tulisan pertamanya, sehingga fokus pada dua yang sebelumnya cukup—sudah memenuhi fadhu kifayah.

Determinisme Biologis sebagai Alibi Kepasifan

Ketika membaca esai Haidar, saya merasakan campuran antara geli dan prihatin. Geli, karena ada semacam ironi tragis ketika seseorang menggunakan argumen biologis dan terminologi akademis tentang hegemoni serta konstruksi sosial hanya untuk membenarkan kepasifannya sendiri. Prihatin, karena inilah potret generasi yang telah terlatih begitu mahir dalam mengemas kekalahan sebagai bentuk perlawanan. Esainya adalah pengakuan dosa yang disamarkan sebagai manifesto tandingan. Ia adalah jeritan seseorang yang tenggelam, namun alih-alih berenang ke permukaan, ia malah memanggil orang lain untuk ikut tenggelam bersamanya sambil berkata, “Lihat, ini wajar, ini alamiah, ini manusiawi!”

Mari kita mulai dari yang paling mendasar dalam argumen Haidar: reduksionisme biologis brutal. Ia berkata bahwa kita hanyalah “onggokan daging seberat enam puluh kilogram” yang disetir oleh serotonin dan oksitosin. Baiklah, mari kita terima premis itu sejenak tanpa memasuki “problem sulit kesadaran” ala Chalmers. Namun bukankah seluruh sejarah peradaban manusia adalah kisah tentang bagaimana kita menolak dikontrol sepenuhnya oleh ‘biologi’ kita? Kita merasa lapar setiap beberapa jam, namun kita menciptakan puasa untuk alasan spiritual dan kesehatan. Kita memiliki insting agresi, namun kita membangun sistem hukum dan etika untuk mengekangnya. Kita punya dorongan reproduksi yang kuat, namun kita menciptakan seni, filsafat, dan sains yang membuktikan bahwa manusia bisa mengalihkan energi libidinal ke pencapaian yang lebih tinggi. Inilah yang Freud sebut sebagai sublimasi.

Jadi ketika Haidar berkata bahwa menolak ketergantungan emosional sama seperti “menyuruh ikan hidup di daratan,” ia sedang melakukan kesalahan kategorikal yang sangat disayangkan. Ikan memang tidak bisa hidup di darat karena ikan tidak punya kapasitas untuk mengubah strukturnya sendiri. Tapi manusia? Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa menyadari instingnya, menganalisisnya, dan kemudian memilih untuk tidak sepenuhnya dikuasai olehnya (mengintervensinya). Inilah yang dimaksud sebagai kesadaran reflektif, dan inilah yang membedakan kita dari kera, bukan hanya “kemampuan memakai celana panjang” sebagaimana ia sindir.

Namun sebelum nampak terlalu jauh membela Manifesto Jomblo Sehat, mari kita jujur tentang kelemahan-kelemahannya. Badra, sang penulis manifesto pertama, juga tidak sepenuhnya lepas dari problem yang sama. Ada semacam nada moralistik yang terselip dalam manifestonya, seolah-olah ada standar objektif tentang apa itu “sehat” dalam konteks kejombloan. Siapa yang menentukan batas antara ketergantungan yang wajar dan yang tidak wajar? Siapa yang berhak mendefinisikan bahwa “menemukan semangat hidup” harus dipisahkan dari hasrat mencintai-dicintai? Bukankah cinta itu sendiri bisa menjadi sumber semangat hidup yang legitim?

Manifesto Jomblo Sehat membawa aroma idealisasi diri yang terlalu tinggi, seolah-olah manusia bisa mencapai kemandirian absolut dalam kehidupan emosionalnya—boleh dikata semacam bentuk lain dari fantasi kontrol yang berlebihan. Badra lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial yang secara ontologis memang dirancang untuk bergantung satu sama lain. Yang perlu diperdebatkan bukanlah apakah kita boleh bergantung, melainkan bagaimana cara kita bergantung dengan ‘sehat’. Ada perbedaan antara interdependensi yang matang dan dependensi yang patologis, namun manifesto itu tidak cukup nuansir dalam membedakan keduanya.

Lebih mengecewakan lagi, Badra terlalu cepat mengambil posisi defensif terhadap tuduhan masyarakat pada jomblo. Ia membuat manifesto seolah-olah kejombloan itu perlu dibela dengan argumen moralitas dan kesehatan mental. Bukankah ini justru menunjukkan bahwa ia masih terjebak dalam kerangka berpikir yang sama dengan masyarakat yang ia kritik? Ia masih percaya bahwa jomblo perlu pembenaran, perlu argumen, perlu manifesto. Mengapa tidak cukup dengan berkata: jomblo adalah kondisi yang kadang dipilih, kadang tidak, dan itu sah-sah saja tanpa perlu didekorasi dengan ideologi pasifisme atau eksistensialisme yang alay?

Namun kembali pada problem besar dalam esai Haidar. Yang paling menggelikan adalah ketika ia menuduh Manifesto Jomblo Sehat sebagai bentuk hegemoni. Ia mengatakannya sebagai upaya “penjinakan” yang memaksa jomblo untuk tidak “merusak pemandangan.” Tapi mari kita periksa: siapa yang sebenarnya ‘hegemoni’ di sini? Manifesto Jomblo Sehat mengajak orang untuk tidak bergantung secara patologis pada orang lain, untuk menemukan semangat hidup sendiri, untuk tidak bermain-main dengan perasaan orang lain. Meski ada problem dalam cara Badra merumuskannya, esensi ajakannya tetaplah tentang kemerdekaan. Sebaliknya, apa yang ditawarkan Haidar? Sebuah pembenaran untuk tetap menjadi parasit emosional, untuk terus-menerus menuntut dunia menyediakan ruang aman bagi kerapuhannya.

Haidar berteriak “Fak sosayeti!” namun sesungguhnya ia sangat bergantung pada sosayeti itu. Ia butuh coffee shop yang meromantisasi kesedihan, butuh playlist galau untuk validasi perasaannya, butuh komunitas yang akan mengangguk-angguk sambil berkata “iya, benar, kita semua korban.” Tanpa struktur sosial yang mengakomodasi kemalasannya, ia akan kehilangan identitas. Lalu siapa yang sebenarnya diperbudak oleh masyarakat?

Kalimat paling mengkhawatirkan dari esai Haidar adalah “Saya ingin jadi orang yang tidak bersemangat, sebab menjadi pribadi yang semangat itu rawan dieksploitasi.” Ia pada dasarnya berkata: “Saya tidak mau berusaha karena takut gagal atau dimanfaatkan.” Kalimat itu jelas bukan kebijaksanaan. Jelas juga bukan perlawanan. Itu adalah rasionalisasi paling klasik dalam psikologi untuk menutupi ketakutan mendasar.

Dalam konteks sosiologis, sikap ini mencerminkan apa yang Erich Fromm sebut sebagai “escape from freedom.” Ketika seseorang diberi kebebasan untuk membangun hidupnya sendiri, ia justru ketakutan karena kebebasan itu membawa tanggung jawab dan risiko kegagalan. Maka ia mencari cara untuk melarikan diri: entah dengan menyerahkan diri pada otoritas, kehilangan diri dalam kerumunan, atau dengan meromantisasi ketidakberdayaannya sendiri seperti yang dilakukan Haidar.

Izinkan saya—sebenere gak perlu izin, tapi ben asyik ae—membawa perbandingan etnografis untuk memperjelas poin ini. Dalam masyarakat Toraja, ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai, mereka mengadakan ritual ma’badong, menangis dan meratap bersama-sama dalam waktu yang ditentukan. Namun ritual ini punya batas waktu. Setelah upacara selesai, kehidupan harus berlanjut. Kesedihan diakui, dihormati, bahkan dirayakan, namun tidak dibiarkan mengakar dan menjadi identitas permanen. Bandingkan dengan apa yang ditawarkan Haidar: kesedihan tanpa batas waktu, kesepian yang diromantisasi, ketergantungan emosional yang dirayakan sebagai “keaslian.” Tidak ada ritual penutup. Tidak ada transisi menuju fase berikutnya. Hanya satu keadaan stagnan yang dipuja-puja sebagai “perlawanan.” Oh saya lupa, Haidar bukan orang Toraja.

Haidar berulang kali menggunakan argumen “ini wajar, ini alamiah, ini cetak biru biologis.” Namun ia lupa bahwa alam juga wajar dalam hukum survival of the fittest-nya. Alam juga wajar ketika membiarkan yang lemah mati. Alam juga wajar ketika predator memangsa yang rentan. Apakah kita juga harus menerima semua itu sebagai norma? Ketika kita berkata “ini alamiah,” kita harus sangat hati-hati.

Banyak hal yang alamiah namun kita dengan sadar memilih untuk melawannya: penyakit itu alamiah, namun kita menciptakan obat. Kekerasan itu alamiah dalam kingdom animalia, namun kita membangun peradaban yang menolaknya. Kematian itu alamiah, namun kita terus berusaha memperpanjang hidup. Perlawanan itulah yang sesungguhnya ‘alamiah’, naturalitas bukan argumen final. Naturalitas adalah titik berangkat, bukan tujuan akhir. Manusia yang dewasa adalah manusia yang menyadari desain biologisnya namun tidak diperbudak olehnya. Kalau Haidar memutuskan menjadi homo neanderthal yang punah, ya silakan.

Bagian ter-kureng dari esai Haidar adalah ketika ia berkata bahwa satu-satunya entitas yang benar-benar “sehat” adalah mayat, batu kali, atau asbak rokok. Jika premisnya adalah “tidak mungkin menjadi sehat tanpa menjadi benda mati,” maka premis itu sudah cacat sejak awal. Ini seperti berkata, “Satu-satunya cara untuk tidak pernah jatuh adalah dengan tidak pernah berjalan.” Ya, benar, tapi solusinya bukan berhenti berjalan. Solusinya adalah belajar berjalan dengan lebih baik, belajar bangkit setelah jatuh, memperkuat otot kaki. Manifesto Jomblo Sehat, meski dengan segala kelemahannya, tidak pernah mengatakan untuk menjadi batu atau mayat. Ia mengatakan untuk menjadi manusia yang lebih sadar, lebih mandiri, lebih bertanggung jawab atas perasaannya sendiri. Ini bukan eliminasi emosi, tapi maturasi.

Haidar merasa “digusur” ketika ada yang mengajak untuk menjadi lebih sehat. Ia merasa ini adalah bentuk penindasan, semacam “Satpol PP” yang hendak menertibkan perasaannya. Namun ini adalah victim mentality yang kacau. Tidak semua ajakan untuk berubah adalah penindasan. Tidak semua kritik adalah kekerasan. Ketika seorang dokter mengatakan “Anda harus berhenti merokok,” itu bukan penindasan, itu kepedulian. Ketika seorang guru mengatakan “Anda harus belajar lebih keras,” itu bukan hegemoni, itu bimbingan. Manifesto Jomblo Sehat, terlepas dari nada moralistiknya yang berlebihan, pada dasarnya adalah undangan, bukan ultimatum. Ia berkata, “Ada cara lain untuk hidup, cara yang mungkin lebih sehat dan lebih membahagiakan.” Jika seseorang merespons undangan itu dengan kemarahan, pertanyaannya bukan “Mengapa mereka memaksa saya?” melainkan “Mengapa saya begitu defensif terhadap kemungkinan perubahan?”

Dalam terapi psikologi, ini disebut resistensi. Ketika klien sudah sangat nyaman dengan neurosis mereka, ketika neurosis itu sudah menjadi identitas, mereka akan melawan segala upaya penyembuhan. Bukan karena penyembuhan itu salah, tapi karena mereka takut kehilangan diri yang mereka kenal, meski diri itu adalah diri yang ‘sakit’. Haidar sudah membangun seluruh identitasnya di sekitar lukanya. Tanpa luka itu, ia bukan lagi “penulis yang pernah gagal cinta.” Ia bukan lagi “korban sistem.” Ia menjadi biasa saja. Dan itu yang paling menakutkan baginya.

Problem Bersama: Ketika Jomblo Menjadi Ideologi

Namun mari kita kembali pada pertanyaan fundamental tentang jomblo. Baik Badra maupun Haidar sebenarnya sama-sama terjebak dalam kerangka berpikir yang problematis: mereka berdua menganggap kejombloan sebagai sesuatu yang perlu didefinisikan, dipertahankan, atau dilawan dengan ideologi tertentu—terlepas apakah mereka itu jomblo ngenes (jones) atau bukan. Padahal sesungguhnya, jomblo hanyalah salah satu kemungkinan kondisi relasional manusia. Ia bukan identitas. Ia bukan ideologi. Ia adalah fase, adalah situasi, adalah momen dalam perjalanan hidup yang jauh lebih kompleks. Yang bermasalah bukan kejombloannya, melainkan bagaimana kedua penulis itu memperlakukan kejombloan sebagai medan bancakan ideologis.

Badra ingin menjadikan jomblo sebagai kondisi yang bermartabat dengan standar moral tertentu. Haidar ingin menjadikan jomblo sebagai posisi perlawanan terhadap hegemoni sosial. Keduanya kehilangan pandangan bahwa jomblo bisa saja sekadar jomblo, tanpa embel-embel manifesto atau kontra-manifesto. Memanggil kembali Badiou tentang cinta sebagai “minimal form of communism,” maka kejombloan bisa dipahami sebagai momen ketika seseorang belum menemukan partner untuk proyek komunisme minimal itu, atau sedang memilih untuk tidak terlibat dalam proyek itu untuk sementara waktu. Tidak ada yang mulia atau hina dalam kondisi itu. Ia hanyalah kondisi.

Yang perlu dikritik bukanlah kejombloan itu sendiri, melainkan bagaimana masyarakat kita mengonstruksi kejombloan sebagai defisit, sebagai kegagalan, sebagai kondisi yang perlu ditertawakan atau dikasihani. Dan ironisnya, baik manifesto Badra maupun esai Haidar sama-sama melanggengkan konstruksi itu dengan cara mereka sendiri. Badra melanggengkannya dengan membuat standar “jomblo yang sehat” seolah-olah “jomblo biasa” itu memang bermasalah. Haidar melanggengkannya dengan meromantisasi kesedihan jomblo seolah-olah kesedihan itu adalah resistensi.

Yang kita butuhkan bukanlah manifesto tentang cara menjomblo yang benar. Yang kita butuhkan adalah dekonstruksi atas seluruh wacana yang menempatkan status relasional sebagai indikator nilai manusia. Seseorang tidak menjadi lebih baik atau lebih buruk karena ia berpasangan atau sendirian. Seseorang tidak menjadi lebih sehat atau lebih sakit karena ia mandiri atau bergantung. Yang menentukan kualitas hidup seseorang adalah bagaimana ia menjalani kondisinya dengan kesadaran penuh, dengan tanggung jawab, dan dengan hormat pada dirinya sendiri dan orang lain—jancok kok maleh dadi wong bijak ngene.

Melampaui Manifesto dan Kontra-Manifesto

Maka inilah yang ingin saya katakan kepada Haidar dan semua yang beresonansi dengannya: keberanian bukan tentang merayakan luka. Keberanian adalah tentang mengakui luka, merawatnya, dan kemudian memilih untuk tidak didefinisikan olehnya. Haidar berkata ingin menjadi “manusia yang wajar.” Tapi manusia yang paling wajar dalam sejarah adalah mereka yang menolak menerima nasib begitu saja. Adalah wajar bagi Galileo untuk takut pada Inkuisisi, namun ia memilih keberanian. Adalah wajar bagi Rosa Parks untuk menyerah pada segregasi, namun ia memilih perlawanan. Adalah wajar bagi Palestina untuk menerima penjajahan, namun mereka memilih kemerdekaan.

Kepada Badra pun saya ingin berkata: hentikan upaya lebay untuk menciptakan standar moral bagi kejombloan. Jomblo tidak perlu manifesto untuk menjadi sah. Jomblo tidak perlu ideologi untuk menjadi bermartabat. Yang perlu dilawan bukanlah stigma jomblo dengan menciptakan jomblo versi “sehat,” melainkan dengan menolak seluruh kerangka berpikir yang menempatkan status relasional sebagai ukuran nilai manusia. Kecuali nih, kalau memang hendak menghibur diri, ya monggo.

Jadi, Haidar, berhentilah bersembunyi di balik klaim biologi yang kliru. Berhentilah menjadikan kelemahan sebagai ideologi. Beranilah untuk mengakui bahwa anda takut, beranilah untuk mengakui bahwa anda lemah, dan kemudian beranilah untuk hidup dengan itu tanpa harus menjadikannya panji perlawanan. Dan Badra, berhentilah menciptakan standar moral untuk menutupi kecemasan bahwa mungkin kejombloanmu juga tidak lebih bermartabat dari yang lain. Keduanya sama-sama takut pada hal yang sama: bahwa mungkin tidak ada yang istimewa dalam kondisi kalian, bahwa mungkin kalian hanya manusia biasa yang sedang melalui fase hidup yang biasa.

Karena pada akhirnya, esai Haidar bukanlah kontra-manifesto. Ia adalah surat permohonan maaf yang ditulis kepada diri sendiri, pembenaran untuk tidak pernah benar-benar mencoba. Dan manifesto Badra bukanlah jalan menuju kebebasan, ia adalah pagar pembatas yang dibangun supaya kegagalannya tampak terencana, supaya kejombloannya terlihat seperti pilihan filosofis dan bukan sekadar hasil dari ketidakmampuan atau ketidakberuntungan.

Dan dunia tidak butuh lebih banyak pembenaran. Dunia tidak butuh lebih banyak manifesto. Dunia hanya butuh orang-orang yang berani hidup dalam ketidakpastian tanpa harus mengubahnya menjadi ideologi, yang bisa merasakan sakit tanpa harus merayakannya, yang bisa berusaha tanpa harus mengklaim telah menemukan formula yang benar. Berhentilah menjadi kapitalis yang mengeksploitasi diri sendiri. Mungkin itulah yang sebenarnya dimaksud dengan dewasa: kemampuan untuk hidup tanpa narasi besar yang membenarkan setiap langkah kita.

* Penulis merupakan mahasiswa Antropologi yang sedang sibuk marathon film-film Bong Joon Ho dan Park Chan Wook. Sangat tidak suka tahlilan yang lama karena baca Asmaul Husna dan menyebut nasab 7 turunan almarhum/mah, padahal Yasin dan sholawat saja cukup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *