Dalam keadaan normal, saya tidak akan meng-klik sebuah tulisan dengan embel-embel kata jomblo di dalam judulnya. Alasan saya akhirnya membaca tulisan tersebut adalah, pertama karena saya seorang jomblo, yang kedua karena saya tidak sehat, dan yang ketiga karena saya merasa bahwa saya, paling tidak hidup menjadi jomblo dengan ketenangan makhluk sosial.
Barangkali, hidup yang runyam dan jomblo dalam waktu yang lama membuat saya tak hirau lagi perihal kejombloan ini, sehingga kicauan masyarakat mana pun, dalam golongan apa pun, bukan lagi sesuatu yang mampu mengusik saya hingga harus menelurkan sebuah tulisan untuk meyakinkan orang-orang, atau diri si penulis sendiri.
Bahwa saya adalah spesies yang telah melampaui hasrat biologis dan filosofinya hingga mampu melepaskan dirinya, bulat-bulat, ke dalam Manifesto Jomblo Sehat tanpa cinta dan hasrat.
Oh, boy. Sebagai manusia yang “tidak sehat” karena masih rutin berurusan dengan ahli kesehatan mental, atau kacamata medical model yang membuat saya dicap sakit sejak lahir hingga mati nanti, padahal seluruh hidup saya hampir bisa dibilang sehat walafiat.
Saya tidak akan masuk dalam adu gagasan jomblo sehat dan tidak sehat. Sebab, secara sederhana saja, saya bukan orang yang sehat, barangkali dalam sehat yang dimaksudkan dalam manifesto-manifestoan itu.
Bila saya mengambil perdebatan ini, saya akan seketika tersingkir dari arena perdebatan manifesto jomblo sehat itu, hampir seketika ketika saya meng-klik tulisan-tulisan yang meneruskan manifesto sehat menurut para sidang penulis jomblo nan budiman semuanya.
Jadi, saya menulis ini hanya sebagai seorang jomblo, tanpa embel-embel sehat, apa lagi sakit. Hanya, jomblo. Namun, anehnya, alasan ketidaksehatan saya tidak bermuasal dari kejombloan, tidak pula mengusiknya. Saya ingin sekali bertemu dengan Bung Badra, membelikannya barang dua bungkus rokok apa pun yang disukainya, sambil menyetrapnya di warung kopi terdekat untuk bertanya kepahitan cinta macam apa yang telah ia alami sehingga mampu menulis Manifesto Jomblo sehat yang jauh dari bumi yang kita semua pijak?
Dari kelima landasan eksistensialis yang tercantum dalam manifesto itu, saya seperti mendengar racauan irasional yang diteriakkan pada kekosongan nyata, sehingga ia bergema dan hanya kembali terdengar sebagai sesuatu yang sama. Akan tetapi telah melampaui apa yang saya sebut sebagai kelapangan hati yang dikosongkan dengan paksa.
Boy, Manifesto Jomblo Sehat itu terlalu kedengaran jomblo amat. Maksud saya, saya jomblo yang, katakanlah “sakit.” Saya telah hidup dengan landasan pasifis dan anti otoritarian yang disebut-sebut, hanya saja landasan eksistensialis yang saya miliki jauh berbeda dari apa yang tercantum dalam manifesto tersebut.
Setiap klausul landasan eksistensialisme dalam Manifesto Jomblo Sehat macam sebuah panduan untuk keluar dari keadaan yang tak diinginkan, atau cap sosial yang paling menyedihkan. Manifesto Jomblo sehat tidak menjelaskan bagaimana, misalnya jomblo yang dicapai dengan kesadaran sendiri, sebuah kondisi yang dipilih atas berbagai alasan di belakangnya.
Kejombloan macam ini, boy, bahkan memang tidak pernah ingin bergantung dengan orang lain. Jomblo macam ini, baik sehat maupun tidak, punya semangat hidup yang lebih masuk akal. Tidak bermain-main dengan perasaan orang lain? Tak terbesit sedikit pun di benak seorang jomblo dengan pilihan sadar melakukan ini, atau bahkan mengidentifikasi dirinya untuk memenuhi landasan eksistensialis manifesto tersebut.
Menyoal urusan memperhitungkan segalanya dengan sadar dan siap untuk konsekuensinya, ini urusan yang runyam, boy. Dalam pengalaman dan pengamatan saya, ongkos atas poin ini tidaklah murah. Kadang ia dibayar dengan sikap keras hati, atau ketidak acuhan yang arogan.
Saya hanya memenuhi 1 poin terakhir, yakni poin kelima, yang demikianlah bunyinya. “Siap menempuh proses penyembuhan luka dengan tenang dan terarah. Bahwa proses penerimaan adalah berkaitan dengan proses pembelajaran kehidupan.”
Boy, bukankah yang terakhir itu kedengaran begitu arif? Saya mengilhaminya dengan begitu sungguh-sungguh, sebab begitulah cara saya menjalani hidup selama kejombloan yang bila dihitung dari kesadaran saya sebagai jomblo, sudah hampir 8 tahun, Boy.
Karena itulah, Manifesto Jomblo Sehat, menurut hemat saya, terlalu terbaca seperti suatu sikap jomblo amat, sebab ia mengunci semua landasan yang dibutuhkan oleh seorang manusia untuk hidup, naluri spesies, kebutuhan biologis, kesadaran dan keterbatasan seorang manusia, jomblo, biasa. Serta pencabutan ekstrem atas sesuatu yang menaaskan kejombloan mereka, yakni cinta. Namun masalah jomblo, sering kali, Boy, tidak berasal dari sana.
Kejombloan, kadang tidak langsung berurusan dengan kegagalan cinta. Dia bisa saja sesederhana nasib buruk, atau memang hanya sebuah kenyataan pahit yang bisa lebih pahit bila mana diuraikan dengan bermacam kombinasi ketidakberuntungan, ketidakinginan, atau sebuah keputusan. Seperti halnya cinta yang tidak didistribusikan secara merata, pun juga kemampuan untuk menjadi jomblo sehat yang tercantum dalam manifesto Jomblo Sehat.
Usahlah diributkan lagi urusan jomblo sehat dan tidak sehat itu, wahai para jomblo yang budiman. Sebab, lagi-lagi, menurut hemat saya, Manifesto Jomblo Sehat terlalu kedengaran seperti jomblo amat, terlalu mengenaskan, irasional, dan, seakan-akan memindahkan seluruh bobot hidup ke dalam pengukuhan identitas Jomblo Sehat, padahal hidup bukan hanya tentang cinta dan orang sakit.
Lain kali mungkin perlu dibuat “Manifesto Sepasang Pesakitan.” Sebab, Boy, menjalani hidup berpasangan tidak serta-merta menjadi lebih mudah daripada mengigau tentang ideal jomblo sehat.


Tinggalkan Balasan